Jumat, 04 Februari 2011

Lima Kunci Pengokoh Jiwa

Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum,..Warahmatullahi,.Wabarakatuh....

  • 1. Aku harus siap menghadapi hidup ini, apapun yang terjadi

Hidup di dunia ini hanya satu kali, aku tak boleh gagal dan sia-sia tanpa guna. Tugasku adalah menyempurnakan niat dan ikhtiar, perkara apapun yang terjadi kuserahkan kepada Alloh Yang Maha Tahu yang terbaik bagiku. Aku harus selalu sadar sepenuhnya bahwa yang terbaik bagiku menurutku belum tentu yang terbaik menurut Alloh SWT. Bahkan sangat mungkin aku terkecoh oleh keinginan dan harapanku sendiri. Pengetahuanku tentang diriku atau tentang apapun amat terbatas sedangkan pengetahuan Alloh menyelimuti segalanya, Dia tahu awal, akhir dan segala-galanya. Sekali lagi betapapun aku sangat menginginkan sesuatu, tetapi hatiku harus kupersiapkan untuk menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapanku. Karena mungkin itulah yang terbaik bagiku.

  • 2. Aku harus rela dengan kenyataan yang terjadi

Bila sesuatu terjadi, yaa… inilah kenyataan dan episode hidup yang harus kujalani. Aku harus menikmatinya, dan aku tak boleh larut dalam kekecewaan berlama-lama. Kecewa, dongkol, sakit hati tak akan merobah apapun selain menyengsarakan diriku sendiri. Dongkol begini, tak dongkol juga tetap begini. Hatiku harus realistis menerima kenyataan yang ada, namun tubuh serta pikiranku harus tetap bekerja keras mengatasi dan menyelesaikan masalah ini. Bila nasi telah menjadi bubur, maka aku harus mencari ayam, cakweh, kacang polong, kecap, sledri, bawang goreng dan sambal agar bubur ayam spesial tetap dapat kunikmati.

  • 3. Aku tak boleh mempersulit diri

Aku harus yakin bahwa hidup ini bagai siang dan malam pasti silih berganti. Tak mungkin siang terus-menerus dan tak mungkin juga malam terus-menerus, pasti setiap kesenangan ada ujungnya begitupun masalah yang menimpaku pasti ada akhirnya, aku harus sangat sabar menghadapinya. Akupun harus yakin bahwa setiap musibah terjadi dengan ijin Alloh Yang Maha Adil, pasti sudah diukur dengan sangat cermat oleh-Nya tak mungkin melampaui batas kemampuanku, karena Dia tidak pernah mendzolimi hamba-hamba-Nya. Aku tak boleh mendzolimi diriku sendiri, dengan pikiran buruk yang mempersulit dan menyengsarakan diri, pikiranku harus tetap jernih, terkendali, tenang dan proporsional. Aku tak boleh terjebak mendramatisir masalah. Aku harus berani menghadapi persoalan demi persoalan, tak boleh lari dari kenyataan, karena lari sama sekali tak menyelesaikan bahkan sebaliknya hanya akan menambah masalah. Semua harus dengan tegar kuhadapi dengan baik, aku tak boleh menyerah, aku tak boleh kalah. Mesti segala sesuatu akan ada akhirnya, begitupun persoalan yang kuhadapi seberat apapun seperti yang dijanjikan Alloh “Fainnama’al usri yusron inna ma’al ‘usri yusron” dan sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Janji yang tak pernah mungkin dipungkiri Alloh SWT.

  • 4. Evaluasi diri

Segala yang terjadi mutlak adalah ijin Alloh Azza Wa Jalla dan Alloh tak mungkin berbuat sesuatu yang sia-sia. Pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian, sepahit apapun pasti ada kebaikan yang terkandung didalamnya, bila disikapi dengan sabar dan benar. Harus kurenungkan mengapa Alloh menakdirkan semua ini menimpaku, bisa jadi peringatan atas dosa-dosa kita, kelalaianku atau mungkin, saat kenaikan kedudukanku di sisi Alloh Mungkin aku harus berfikir keras untuk menemukan kesalahan yang harus kuperbaiki Setiap kejadian bagai cermin pribadiku, aku tak boleh gentar dengan kekurangan dan kesalahan yang telah terjadi, yang penting kini aku mengetahui diriku yang sebenarnya dan aku bertekad sekuat tenaga untuk memperbaikinya, Alloh Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat.

  • 5. Alloh-lah satu-satunya penolongku

Aku harus yakin kalaupun bergabung seluruh manusia dan jin untuk menolongku tak mungkin terjadi apapun tanpa ijin-Nya Hatiku harus bulat total dan yakin seyakin-yakinnya, bahwa hanya Alloh-lah satu-satunya yang dapat menolong memberi jalan keluar terbaik dari setiap urusan. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya, karena segala-galanya adalah milik-Nya dan sepenuhnya dalam kekuasaan-Nya Tak ada yang dapat menghalangiku jikalau Dia akan menolong hamba-hamba-Nya. Dia-lah yang mengatur segala sebab datangnya pertolongan-Nya Oleh karena itu aku harus benar-benar berjuang, berikhtiar untuk mendekati-Nya dengan mengamalkan apapun yang disukai-Nya dan melepaskan hati ini dari ketergantungan selain-Nya, karena selain Dia hanyalah sekedar makhluk yang tak berdaya tanpa kekuatan dari-Nya Ingatlah selalu janji-Nya !!!!

“Barang siapa yang bertaqwa kepada-Ku, niscaya Ku beri jalan keluar dari setiap urusannya dan Kuberi rizki/pertolongan dari tempat yang tak terduga. Dan barang siapa yang bertawakal kepada-Ku, niscaya akan Kucukupi segala kebutuhannya”..(QS.At-Thalaq) : 2-3)

Wallahu'alam Bishawab

Subhanaka Allahuma wa bihamdika asyhadu ala ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik....Wasalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh !!!

Saudariku, Berjilbablah Sesuai Ajaran Nabimu !!!


Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum,..Warahmatullahi,...Wabarakatuh ,...


Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaian pun dibimbing oleh Alloh Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justru jelek menurut Alloh.

Alloh Azza Wa Jalla berfirman,  
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Alloh lah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216).

Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.

  • Perintah dari Atas Langit

Alloh Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimah untuk berjilbab sesuai syari’at.

Alloh Azza Wa Jalla berfirman,

Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al Ahzab: 59)
  • Ketentuan Jilbab Menurut Syari’at
Berikut ini beberapa ketentuan jilbab syar’i ketika seorang muslimah berada di luar rumah atau berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrom (bukan ‘muhrim’, karena muhrim berarti orang yang berihrom) yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohihah dengan contoh penyimpangannya, semoga Alloh memudahkan kita untuk memahami kebenaran dan mengamalkannya serta memudahkan kita untuk meninggalkan busana yang melanggar ketentuan Robbul ‘alamiin.
  • Pertama
Pakaian muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (lihat Al Ahzab: 59 dan An Nuur: 31).

Selain keduanya seperti leher dan lain-lain, maka tidak boleh ditampakkan walaupun cuma sebesar uang logam, apalagi malah buka-bukaan. Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali-red.
  • Kedua
Bukan busana perhiasan yang justru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik!!!; ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslimin. Sadarlah wahai kaum muslimin…

  • Ketiga
Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya tampak atau transparan. Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.
  • Keempat
Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,  

“Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid, maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian.” (HR. Muslim).

Kalau pergi ke masjid saja dilarang memakai wewangian lalu bagaimana lagi para wanita yang pergi ke kampus-kampus, ke pasar-pasar bahkan berdesak-desakkan dalam bis kota dengan parfum yang menusuk hidung?! Wallohul musta’an.
  • Kelima
Tidak menyerupai pakaian laki-laki seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Rosululloh melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhori)
  • Keenam
Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. Nabi senantiasa memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka diantaranya dalam masalah pakaian yang menjadi ciri mereka.
  • Ketujuh
Bukan untuk mencari popularitas. Untuk apa kalian mencari popularitas wahai saudariku? Apakah kalian ingin terjerumus ke dalam neraka hanya demi popularitas semu. Lihatlah isteri Nabi yang cantik Ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dengan patuh menutup dirinya dengan jilbab syar’i, bukankah kecerdasannya amat masyhur di kalangan ummat ini?   Wallohul muwaffiq.

(Disarikan oleh Abu Mushlih dari Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al Albani)

~MAGHFIRAH " Ampunan " ~

                                              

Bismillahir rohmaanir rohiim...
Assalamu'alaikum,.Warahmatullahi,.Wabarakatuh..


KEAMPUNAN Ilahi atau MAGHFIRAH adalah nikmat ILAHII yang amat bernilai. Seorang ulama tafsir tersohor.
Al-Asfahani menegaskan, MAGHFIRAH adalah anugerah ILAHII yang tidak ada tolak bandingnya dalam kehidupan manusia.

Tanpa keampunan Ilahi nescaya setiap insan pasti akan merasai azab seksa dan kemurkaan
Allah Azza Wa Jalla. Tambahan pula,

setiap manusia tidak kira siapa pun dia, tidak terlepas daripada dosa dan kesalahan.

Allah sentiasa menyeru manusia beriman supaya mencari dan menjejaki keampunan Allah. Dalam al-Quran.Allah memerintahkan umat Islam supaya bersegera dan bersaing untuk merebut keampunan Allah seperti firman Allah:

Berlumbalah kamu untuk mendapat keampunan Tuhan kamu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; itulah kurniaan Allah; diberikan kepada sesiapa yang dikehendaki; dan Allah mempunyai kurnia yang besar. (Surah Al-Hadid, ayat 20)

Perlu insaf perintah untuk mencari keampunan Ilahi tidak hanya terbatas kepada umat Islam, malah Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam sendiri diperintahkan beristighfar dan mencari keampunan Allah walaupun umat Islam umumnya mengetahui bahawa Rasulullah adalah seorang nabi yang maksum yang terpelihara sebarang dosa dan kesalahan.

Ulama tafsir tersohor, Imam al-Razi dalam kitabnya, Tafsir al-Razi, berkata keampunan Ilahi ada beberapa pengertian.

Al-Quran menyebut bahawa keampunan itu sentiasa dikaitkan dengan syurga, bermakna orang memperoleh keampunan Allah.berarti dia memperoleh syurga.

Berdasarkan perintah Ilahi dan Sunnah Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam, setiap Muslim wajib mencari keampunan Ilahi dalam setiap detik kehidupannya. Ada beberapa perkara perlu dilakukan supaya ia tidak menjadi sia-sia yang akhirnya hanya mengundang kemurkaan Allah.

Rasulullah mengajar umatnya perbanyakkan istighfar dalam usaha untuk mengejar keampunan Allah. Rasulullah sendiri beristighfar tidak kurang daripada 70 hingga 100 kali sehari semalam seperti tercatat dalam hadis sahih.

Begitu juga para sahabat yang banyak beristighfar kepada Allah pada waktu malam di kala orang lain sedang nyenyak tidur lena dibuai mimpi yang indah sebagaimana dirakamkan Allah lewat firman-Nya yang bermaksud: Mereka sentiasa mengambil sedikit sahaja masa dari waktu malam untuk mereka tidur. Dan di akhir malam mereka beristighfar kepada Allah.(Surah Al-Dzariyat: 17-18).

Kalaulah Rasulullah yang maksum beristighfar pada setiap hari dan malam sekurang-kurangnya 70 kali, maka manusia yang tidak maksum ini dan tidak pula dapat mengelakkan diri daripada buruan dosa, amat wajarlah beristighfar lebih daripada 70 kali berbanding dengan Rasulullah.

Keampunan Ilahi hanya boleh diraih dengan mendekatkan diri ke Hadrat Allah melalui ibadah dan amalan salih.Di dalam al-Quran, keampunan Allah selalu dihubungkaitkan dengan iman, takwa dan amal kebajikan sebagaimana yang dapat difahami dalam firman Allah yang bermaksud: 

Orang yang kafir, bagi mereka azab yang berat; dan orang yang beriman serta beramal salih, bagi mereka keampunan dan pahala yang besar. (Surah Fatir:  7).

Ibadah menurut pengertian syarak ialah ketundukan dan kepatuhan yang penuh tulus lagi kudus serta ketaatan yang mutlak serta tidak berbelah bahagi hanya kepada Allah yang dikenang limpahan kurnia kebaikan-Nya serta dirasai dalam hati nurani akan kehebatan-Nya dan kekuasaan-Nya.

Ketundukan dan kepatuhan ini bukan hanya datang daripada manusia, malah semua makhluk Allah.

Firman Allah Azza Wa Jalla bermaksud:

Dan kepada Allah jualah sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi tunduk menurut, sama ada dengan sukarela atau dengan terpaksa; dan (yang demikian) juga bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang. Bertanyalah (wahai Muhammad): Siapakah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan langit dan bumi?Jawablah: Allah. (Surah Al-Ra’d : 15-16).

  • HIKMAH MAGHFIRAH

* Penghapusan segala dosa dan kesalahan.
* Keburukan diganti kebaikan.
* Kesucian dan kesempurnaan rohani.

Wallahu'alam Bishawab
Subhanaka Allahuma wa bihamdika asyhadu ala ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik..

Membuka Pintu Pertolongan Alloh




Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum,.Warahmatullahi,..Wabarakatuh..


Pertolongan Allah itu pasti."
Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah pasti akan menolong kalian dan mengokohkan pijakan kalian,"(Qs. Muhammad: 7).  

Firman Allah tersebut menegaskan rumus pertolongan Allah yang bersifat aksioma,  sebagai konsekuensi dari loyalitas yang tinggi kaum beriman. Bantuan dan perolongan Allah tidak datang begitu saja. Allah tidak akan memberi bantuan itu secara cuma-cuma. 

Allah Azza Wa Jalla menghendaki bahwa pembelaan-Nya kepada orang-orang beriman terwujud dengan adanya upaya dari mereka sendiri, agar mereka mencapai kematangan dari celah-celah kesulitan yang mereka alami. Seseorang akan mencapai kematangan di saat potensi dan kekuatan terpendamnya bangkit.

Dan kondisi itu takkan terwujud kecuali tatkala ia berhadapan dengan marabahaya. Ketika seseorang melakukan upaya membela diri dan menghimpun seluruh tenaganya untuk berhadapan dengan sesuatu yang mengancam aqidah, prinsip dan kehidupannya, di sanalah seluruh sel kekuatannya akan bangkit.


Andai pertolongan Allah itu datang tanpa melalui susah payah, maka kenikmatan yang terjadi sesudah itu bisa saja akan menjadi penghambat munculnya potensi kekuatan yang dimiliki oleh seseorang. Di samping itu, bantuan Allah yang diturunkan itupun mungkin rasanya tidak begitu bernilai, lantaran tak ada tuntutan pengorbanan yang berarti untuk memperolehnya.

Dalam perang Badar misalnya.
Pertolongan Allah datang tatkala kaum muslimin telah membuktikan dua hal.

Pertama, motivasi mereka yang sangat kuat dalam membela agama Allah, meskipun kaum muslimin saat itu menyadari akan berhadapan dengan pasukan musuh yang jauh lebih besar dan lebih hebat dibanding mereka. Dalam perang tersebut sejarah memperlihatkan indahnya kesungguhan dan keikhlasan para prajurit Islam dalam membela agama Allah dengan harta dan jiwa raga mereka.


Kedua, ketaatan dan kepatuhan mereka pada pemimpin mereka Rasulullah SAW. Ketaatan tersebut dijiwai oleh iman yang tertancap dalam dada mereka, sehingga sulit dipatahkan oleh dahsyatnya pertempuran. Pertolongan Allah pun datang di saat yang tepat sebagai konsekuensi logis dari kedua faktor di atas. Meski secara jumlah dan persiapan perang kaum muslimin jauh lebih lemah, namun dalam perang itu kaum muslimin memperoleh kemenangan gemilang. 

Kesimpulannya, Allah menjadikan pertolongan-Nya pada orang beriman hanya bila ada upaya dan usaha dari diri mereka sendiri. Ia tidak memberi pertolongan sebagai sesuatu yang dijatuhkan begitu saja dari langit. Apa saja upaya yang harus dilakukan sehingga kita layak mendapat pertolongnan Allah?

  • Pertama
Membersihkan niat beramal dari segala motivasi yang tidak bersih.

Itulah ikhlas. Ikhlas adalah kunci pertama yang paling penting bagi terbukanya pintu  pertolongan Allah. Nilai suatu pekerjaan sangat tergantung dari kadar keikhlasan  pelakunya. Meski secara zahir suatu pekerjaan itu berat dan tampaknya untuk membela kepentingan Islam, namun bila pelakunya tidak memiliki niat yang ikhlash, maka amalnya akan sia-sia. Kalau tidak justru mendatangkan siksa. Ada orang yang mungkin melakukan pekerjaan yang dinilai baik di mata manusia, tapi ia berniat melakukannya untuk popularitas atau kepentingan duniawi lainnya. Orang seperti ini, tidak akan mendapat pertolongan Allah. Dengan kata lain, wujud keikhlasan tidak bisa terlihat sekadar bila seseorang melakukan sesuatu pekerjaan yang berat dan menanggung risiko. Bahkan dalam medan jihad, dalam sebuah hadits pernah diceritakan kisah seorang pemuda yang terlihat gagah berani di medan pertempuran. Namun Rasulullah mengatakan pemuda itu adalah penghuni neraka. Di akhir pertempuran, para sahabat mendapati pemuda itu menghunus pedangnya ke tubuhnya sendiri lantaran tak kuat menahan luka. 

  • Kedua
Berdo’a dengan penuh kepasrahan pada Allah Azza Wa Jalla.

Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Berdo‘alah kepada Rabbmu dengan rasa takut dan suara lirih
(Qs. Al-A’raf: 55)

Berdo’a dengan rasa takut dan suara lirih, merupakan salah satu bentuk kesungguhan dan kepasrahan di hadapan Allah. Memanjatkan do’a kepada Allah harus dilakukan dengan hati yang sungguh-sungguh, penuh konsentrasi, sebagai bukti kerendahan dan harapan penuh kita kepada Allah Azza Wa Jalla.
Permohonan seperti ini, insya Allah akan dikabulkan. Rasulullah SAW bersabda, “Adakalanya seseorang yang rambutnya terurai dan berdebu, bahkan diusir dari semua pintu rumah orang karena hina dalam pandangan manusia. Namun kalau ia sungguh-sungguh meminta kepada Allah, pasti Allah mengabulkannya.” (HR. Muslim)


  • Ketiga
Yakini bahwa kehidupan ini adalah ladang amal yang tanpa batas untuk meraih kebahagiaan di akhirat.

Lingkup amal yang harus dilakukan itu meliputi seluruh waktu kehidupan seseorang. Selama ia masih hidup, selama itu pula ia diperintahkan untuk terus berusaha dan berjuang sebatas kemampuan yang dimiliki. Tak ada ujian hidup yang melanggar kemampuan manusiawi. Dalam surat Al-Baqarah, Allah telah menegaskan, “Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” Seberat apapun ujian dan kesulitan hidup, pasti masih berada dalam batas kemampuan manusia untuk memikulnya. Dan manusia dapat memikul beban tersebut, hanya dengan kualitas iman yang baik. 

  • Keempat
Hindarilah mengatakan bahwa kita sudah habis kesabaran menghadapi keadaan yang tidak sesuai.

Karena pada dasarnya batas kesabaran itu tidak ada. Batas kesabaran sama dengan batas manusia hidup. Dan selama itu tak ada pernyataan bahwa kesabaran kita sudah habis. Sabar artinya tahan menderita menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan diri dan sanggup menahan diri ketika memperoleh hal-hal yang menyenangkan sehingga tidak terjerumus pada perbuatan maksiat.

Bersabar dalam penderitaan dan kesenangan menjadikan seseorang selalu dekat kepada Allah dan menjaga diri dari segala hal yang dapat menimbulkan kemurkaan Allah. Orang semacam ini berhak mendapat kasih sayang Allah, sehingga menjadi hamba yang dekat dengan Allah. Pertolongan Allah pun akan sangat mungkin turun pada hamba-hamba-Nya yang bersabar. Justru dengan bersabarlah para salafushalih merasakan kenikmatan dalam hidup. Seperti dikatakan Umar bin Khattab, “Kami mendapatkan kebaikan hidup kami dengan bersabar."
Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Ketahuilah bahwa posisi sabar bagi iman adalah seperti posisi kepala bagi tubuh. Jika kepala terputus, maka matilah badan." Kemudian ia meninggikan suaranya, “Ketahuilah bahwa tidak beriman orang yang tidak bersabar." Umar bin Abdul Aziz mengatakan, "Allah tidak memberi suatu kenikmatan pada hamba-Nya, kemudian Dia mencabutnya dari orang itu dan menggantinya dengan sabar, maka penggantinya itu lebih baik daripada apa yang dicabut darinya." Itulah pertolongan Allah. 

  • Kelima
Pantang berputus asa dari rahmat Allah.

Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam  pernah bersabda,
"Tiga golongan yang kelak tidak akan diperiksa lagi perkaranya (di akhirat). Yaitu …. orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah.”
(HR. Thabrani, Abu Ya’la, dan Bukhari dalam kitab Adab).

Putus asa ialah sikap tidak mempunyai harapan baik akan masa depan. Sikap putus asa timbul pada diri orang yang kurang beriman pada kemurahan Allah Azza Wa Jalla kepada makhluk-Nya. Lantaran kondisi tersebut, seseorang bahkan menuduh Allah tidak adil karena menjadikan dirinya dalam kesulitan atau kesusahan. Dengan kata lain, orang yang putus asa adalah orang yang mengingkari sifat keadilan, kemurahan dan kebijaksanaan Allah kepada makhluk-Nya. Sikap ini pasti menjadikan Allah murka.


  • Keenam
Tetap memelihara sikap istiqamah.

Utamanya dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi maksiat. Orang yang istiqamah atau berpegang teguh pada petunjuk Allah akan selalu tertuntun pada kebenaran. Orang yang istiqamah menjalani kehidupan di dunia ini akan dibebaskan oleh Allah dari perasaan resah, takut, dan khawatir  menghadapi segala ujian dan cobaan hidup. Orang-orang semacam ini selalu berada di bawah kasih sayang Allah. Di manapun mereka berada mereka selalu dinaungi malaikat rahmat, karena mereka selalu dekat dengan Allah. Orang yang dekat dengan Allah selalu didengar dan diperhatikan oleh Allah sehingga mereka merasa aman dan tentram, tanpa sedikitpun merasa sedih dan was-was menghadapi tantangan hidup.  

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak (pula) berduka cita.”(QS. Fushilat: 30) 

  • Ketujuh
Jangan sekali-kali menyalahkan ketentuan Allah Azza Wa Jalla.

Apalagi bila kemudian dilanjutkan dengan do’a untuk keburukan.
Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda,
“Tidak sekali-kali seorang muslim di bumi ini berdo’a pada Allah meminta suatu permintaan, melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta atau memalingkan darinya suatu kejahatan

yang semisal dengan permintaannya, selagi ia tidak berdo’a meminta suatu dosa atau memutuskan silaturahmi.” Maka ada seseorang berkata, “kalau demikian, kami akan memperbanyak (berdo’a)." Beliau menjawab, “Allah Maha Memberi." (HR. Tirmidzi),

  • Kedelapan
Pelajari dan lakukan sebab-sebab logis bagi datangnya pertolongan Allah Azza Wa Jalla.

Pertolongan Allah tidak akan datang bagi seseorang yang tidak mau melakukan sesuatu yang bisa mendatangkan keberhasilan, sesuai sunnatullah dalam alam semesta. Keinginan untuk lulus dalam ujian, harus dibarengi dengan upaya belajar dengan baik. Keinginan untuk bisa memperoleh rezeki yang banyak, harus diiringi dengan sikap ulet, cermat, tekun, disiplin, dan profesionalisme yang tinggi, Harapan agar kondisi umat Islam berubah menuju kejayaan, harus didukung dengan upaya mendidik dan membina masyarakat muslim yang memiliki pemahaman dan komitmen agama yang baik. Sebab itulah fondasi dan syarat utama kemenangan umat Islam. Begitu seterusnya.  

Setelah sikap-sikap diatas bisa dimiliki, maka nantikanlah pertolongan Allah yang pasti datang.
Allah Azza Wa Jalla berfirman dalam salah satu hadits qudsi, “Barang siapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang terhadapnya, dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu perbuatan yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Dan seorang hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Dan bila Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Akulah penglihatannya yang dengannya ia melihat, Akulah tangannya yang dengannya ia memukul, dan Akulah kakinya yang dengannya ia berjalan, Kalau ia meminta padaku, niscaya Aku beri dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku lindungi." (HR. Muslim).

Hanya saja, perlu dicatat, jangan diartikan bahwa pertolongan Allah itu datang selalu dalam bentuk yang sesuai dengan keinginan kita. Bisa saja Allah memberi pertolongan tidak dalam bentuk yang kita ingini, bahkan sebaliknya. Tapi pastikan, itu adalah awal dari sesuatu yang baik. Wallahu’alam Bishawab ...

Jika ada yg bnar s'mata2 hanya dari Allah Azza Wa Jalla sdangkan jika ada yg salah krena kesalahan saya yg dhoif ini.

Bersyukur Lebih Berat dari Bersabar .




Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Firman Allah Azza Wa JAlla  di dalam sebuah Hadis Qudsi yang menyebut mengenai sifat syukur,


Yaitu terjemahannya;

“Kalau Aku uji kamu dengan kesusahan, kamu tidak mahu bersabar, dan kalau Aku uji kamu dengan nikmat, kamu tidak mahu bersyukur, maka nyahlah kamu dari bumi dan langit Allah ini dan pergilah cari Tuhan yang lain.”

Kalau kita perhatikan hidup manusia ini dengan teliti, kita akan dapati bahawa manusia ini sedetik pun tidak terlepas dari diuji. Manusia diuji dengan ujian kesusahan ataupun ujian nikmat yang silih berganti datangnya. Kemudian manusia dituntut supaya bersabar dalam menerima kesusahan serta bersyukur dalam menerima nikmat. Jadi, pada hakikatnya, apa sahaja pergolakan dan perubahan yang berlaku dalam hidup manusia ini, ia hanya mempunyai dua sifat atau dua bentuk. Sama ada ia ujian kesusahan atau ujian nikmat. Atas kedua-dua bentuk ujian ini, hati kita perlu menerimanya dengan betul, iaitu bersabar apabila menerima kesusahan dan bersyukur apabila dikurniakan nikmat.

Di antara kedua-dua tuntutan ini, sekali imbas kita lihat, bersabar itu lebih susah dan lebih berat untuk dipraktikkan.Ini kerana dalam bersabar, hati manusia perlu melalui kesusahan, keresahan, tekanan dan penderitaan. Emosi, fikiran dan ketenangan jiwa terganggu. Kebahagiaan hilang. Bersyukur pula, pada sekali imbas, nampak lebih senang dan mudah kerana hati manusia berada dalam keadaan tenang dan gembira; tidak ada tekanan atau penderitaan.

Apakah ini benar? Adakah bersyukur itu lebih mudah dari bersabar? Kalau benar kenapa tidak ramai orang yang mampu bersyukur? Kenapakah orang-orang yang benar-benar bersyukur itu sedikit sekali bilangannya.

Kenapakah Allah ada berfirman di dalam Al Quran:
Maksudnya:
“Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Surah As-Saba’: 13)


Bersyukur itu sebenarnya berperingkat-peringkat. Ramai orang, apabila mendapat nikmat, lantas mereka memuji Allah. Mereka ucapkan ‘Alhamdulillah’. Ini bersyukur cara biasa. Ramai yang boleh bersyukur dengan cara ini. Akan tetapi, kalau setakat ucapan sahaja, ia belum lagi dikira bersyukur yang sebenarnya. Kalau setakat ucapan sahaja, tetapi tuntutan tuntutan lain dalam bersyukur itu tidak dilaksanakan, maka ditakuti ucapan ‘Alhamdulillah’ itu hanyalah untuk mempermain- mainkan atau mempersendakan Allah sahaja.

Ramai juga orang, apabila menerima nikmat atau diselamatkan dari bala bencana, lantas mereka memuji Allah dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Di samping itu hati mereka benar-benar merasakan Allahlah yang telah memberi mereka nikmat itu, atau Allahlah yang telah menjauhkan mereka dari bala bencana tersebut. Mereka diberi pahala kerana merasakan syukur itu di dalam hati mereka. Ini bersyukur peringkat kedua.

Adapun syukur yang sebenar itu ialah syukur yang diucapkan oleh lidah, yang dirasakan atau ditasdikkah di dalam hati, dan yang dilaksanakan dalam perbuatan. Di samping mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dan di samping merasakan di hati bahawa Allahlah yang mengurniakan nikmat tersebut, nikmat itu mesti digunakan atau dikorbankan ke jalan Allah. Inilah hakikat kesyukuran yang sebenarnya.

Kalau kita kaya contohnya, kekayaan itu perlu digunakan ke jalan Allah untuk membantu fakir miskin, untuk jihad fisabilillah dan untuk kemaslahatan umat Islam keseluruhannya. Begitulah juga dengan segala bentuk nikmat Allah yang lain. Semuanya perlu dimanfaatkan ke jalan Allah untuk mendapat keredhaan-Nya.

Firman Allah :

Maksudnya:
Kalau kamu bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku, Aku akan tambah lagi nikmat-nikmat-Ku. Tetapi kalau kamu kufur nikmat, ingatlah sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (Surah Ibrahim: 7)

Syukur seperti inilah yang Allah suka dan yang Allah mahu. Dia akan tambah lagi nikmat-Nya, untuk ‘cover’ balik apayang dikorbankan ke jalan Allah itu.

Justeru itu, kita dapati dalam bersyukur itu ada tugas, ada kerja dan ada tanggungjawabnya iaitu kita terpaksa mengguna dan mengorbankan segala nikmat yang Allah kurniakan itu ke jalan Allah. Nikmat Allah itu perlu ditadbir, diurus dan digunakan pada jalan yang betul. Amat mudah bagi manusia lupa diri dan menggunakan nikmat Allah itu kepada jalan yang sia-sia atau lebih berat lagi kepada jalan maksiat. Kalau ini berlaku maka nikmat itu akan bertukar menjadi bala dan mendapat laknat daripada Allah.

Dalam bersabar, kita tidak ada kerja atau tanggung jawab tambahan selain dari menahan perasaan. Tidak ada bahaya menyalah gunakan nikmat kurniaan Tuhan. Apa yang perlu hanyalah menjaga dan mendidik hati supaya dapat menerima ketentuan Allah itu dan berbaik sangka dengan-Nya.

Barulah kita faham kenapa Allah berfirman bahawa sedikit sekali hamba-hamba-Nya yang bersyukur kerana bersyukur itu sendiri bukanlah suatu perkara yang mudah.

Fahamlah kita sekarang, bersyukur itu rupanya lebih berat dari bersabar.

Jika ada yg bnar s'mata2 hanya dari Allah Azza Wa Jalla sdangkan jika ada yg salah krena kesalahan saya yg dhoif ini.

~ Sikap Orang Bodoh ~

Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum,.Warahmatullahi,.Wabarakatuh,.


Dalam perjalanan menuju Allah  ada sebahagian orang yang tertinggal di belakang walaupun mereka sudah melakukan amal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang lain yang lebih maju. Satu halangan yang menyekat golongan yang tertinggal itu adalah kebodohannya yang tidak mahu tunduk kepada ketentuan Allah...

Dia masih dipermainkan oleh nafsu dan akal yang menghijab hatinya daripada melihat Allah  pada apa yang dilihat. Pandangannya hanya tertuju kepada alam benda dan perkara zahir sahaja. Dia melihat kepada keberkesanan hukum sebab-musabab dan meletakkan pergantungan kepada amalnya. Dia yakin yang dia boleh mendapatkan apa yang dia ingini melalui usahanya.

Ketika Rohani orang lain telah maju di dalam menuju Allah dia masih juga berpusing-pusing di dalam kesamaran dan keraguan.
Nafsunya tetap melahirkan keinginan-keinginan. Keinginan diri sendiri menjadi rantai yang mengikat kaki daripada berjalan menuju Allah,Bagaimana boleh seseorang mendekati Allah jika dia enggan menjadikan Allah sebagai Pengurus semua aspek kehidupannya.
Walau para hamba rela atau membantah, Allah tetap melaksanakan ketentuan-Nya. Allah melaksanakan kehendak-Nya pada setiap masa dan tidak ada sesiapa yang dapat menghalang-Nya.

Tiap-tiap masa Ia (Allah) di dalam urusan (mencipta dan mentadbirkan makhluk-makhluk-Nya).
( QS. ar-Rahman :29 )



Allah saja yang mencipta, meletakkan hukum dan peraturan, membahagikan rezeki dan lain-lain. Dia menentukan urusan dengan bijaksana dan adil, termasuklah urusan mengenai diri kita dan apa yang terjadi pada kita. Kita memandang diri kita dan kejadian yang menimpa kita dalam sekop yang kecil. Allah melihat kepada seluruh alam dan semua kejadian, tanpa keliru pandangan-Nya kepada diri kita dan kejadian yang menimpa kita, juga tidak beralih pandangan-Nya dari makhluk-Nya yang lain.

 Urusan pentadbiran-Nya adalah menyeluruh dan sempurna. Orang yang tidak berbekas pada hatinya akan kesempurnaan Allah itu adalah orang Bodoh. Dia masih juga merungut tentang perjalanan hukum takdir Ilahi, seolah-olah Tuhan harus tunduk kepada hukum makhluk-Nya. Bagi murid yang cenderung mengikuti latihan kerohanian perlulah berusaha untuk melenyapkan kehendak diri sendiri dan hidup dalam lakuan Allah. Jangan sekali-kali bertelagah dengan takdir kerana Penentu Takdir tidak pernah berbincang dengan sesiapa pun dalam menentukan arus ketentuan-Nya.

 Jika kita mahu mengenali Allah, kita tidak boleh melihat-Nya pada satu aspek saja. Jika kita melihat Allah al-Ghafur (Maha Pengampun), kita juga harus melihat Allah al-‘Aziz (Maha Keras). Jika kita melihat Allah al-Hayyu (Yang Menghidupkan) kita juga harus melihat Allah al-Mumit (Yang mematikan). Jika kita dapat melihat semua Sifat-sifat Allah dalam satu kesatuan baharulah kita dapat mengenali-Nya dengan sebenar-benar kenal. Bila Allah dikenali dalam semua aspek, hikmat kebijaksanaan-Nya dalam menentukan sesuatu perkara pada sesuatu masa tidak terlindung lagi dari pandangan mata hati.

 Hati yang tidak mahu tunduk kepada Maha Pengatur tidak akan menemui kedamaian. Waktu, ruang dan kejadian akan membuatnya gelisah kerana nafsunya tidak dapat menguasai semua itu. Dia inginkan sesuatu perkara pada satu masa sedangkan Maha Pengatur inginkan perkara lain. Kehendak makhluk tidak dapat mengatasi kehendak Tuhan. Jika mahu hati menjadi tenteram usahakan agar hati sentiasa ingat kepada Allah...

“(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah”. Ketahuilah! Dengan “zikrullah” itu, tenang tenteramlah hati manusia. (Ayat 28 : Surah ar-Ra’d)

Berimanlah kepada Allah dan beriman juga kepada takdir. Lepaskan waham sebab musabab yang menjadi pagar nafsu menutup hati.

Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. ( Ayat 11 : Surah at-Taghaabun )

Jika ada yg bnar s'mata2 hanya dari Allah Azza Wa Jalla sdangkan jika ada yg salah krena kesalahan saya yg dhoif ini.