Jumat, 04 Februari 2011

Taqwa Adalah Akhlak Mu'min


Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum 'Warahmatullahi 'Wabarakatuh

Tahukah saudaraku sekalian…?

Ketaqwaan adalah simbol atau lambang muslim sejati yang benar-benar beriman kepada Allah.Di dalam al-Quran dan hadis, sifat taqwa seringkali dikaitkan sebagai sifat kejayaan  dan kebahagiaan manusia di  akhirat.

Dari Abu Zar Jundub bin Junadah dan Abu Abdul Rahman Muaz bin Jabal r.a,
Rasulullah Sallallhu 'alaihi Wasallam Bersabda : 
Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikutilah setiap perbuatan dosa dengan mengerjakan amalan kebaikan yang akan memadamkan dosa itu dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang terpuji.” (Riwayat al-Tirmizi)

Alloh Azza Wa Jalla Berfirman :
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan ( QS.An -Nahl : 128 )

Berdasarkan saranan Rasulullah Sallallhu 'alaihi Wasallam tersebut dapat disimpulkan bahawa taqwa adalah sifat yang sangat penting pada seseorang Islam yang tunduk dan patuh kepada Allah. Ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Malah ia adalah lambang dan simbol utama keteguhan iman yang terpahat dalam hati Muslim.

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.( QS. Luqman : 22 )

Namun, segelintir umat Islam hari ini belum memahami pengertian taqwa yang sebenar dan kepentingannya dalam kehidupan harian.
Nabi Sallallhu 'alaihi Wasallam. menjelaskan lagi konsep taqwa sebagaimana dalam hadis berikut :

Sesiapa yang menyebut kalimah
“Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dengan ikhlas, nescaya dia dapat masuk syurga.”Kemudian baginda ditanya: “Apakah maksud ikhlas itu?”.
Baginda menjawab : “Iaitu kamu memelihara diri kamu daripada melakukan larangan Allah.”

Alloh Azza Wa Jalla Berfirman :

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala),dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.( QS.Al- Baqarah : 103 )

Pendek kata, ketaqwaan menurut Al Quran dan Hadits adalah menunaikan segala amalan yang difardhukan dan meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan RasulNya. Inilah pengertian umum bagi taqwa yang sekurang-kurangnya perlu dimaklumi dan dihayati oleh umat Islam dalam kehidupan yang penuh dengan cabaran pada hari ini.

Ibnu Abbas pernah menyatakan :
“Orang yang bertaqwa ialah mereka yang sentiasa beringat akan seksaan Allah apabila meninggalkan segala perintahnya.
Oleh itu, mereka tidak akan meninggalkannya dan sebaliknya melaksanakan perintahnya dengan penuh kepatuhan dan ketulusan serta sentiasa mengharapkan Rahmatnya dan keredhaannya dalam semua urusan yang diperintahkannya.”...Wallahu'alam Bishawab ..

Jika ada yg bnar s'mata2 hanya dari Allah Azza Wa Jalla sdangkan jika ada yg salah krena kesalahan saya yg dhoif ini.

Tidak Boleh Menyembunyikan Ilmu !!


Bismillahir romaanir rohiim..
Assalamu'alaikum 'Warahmatullahi 'Wabarakatuh..


"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang."

Laknat yang berasal dari Allah adalah diusir dan dijauhkan dari kebaikan, sedangkan laknat yang berasal dari makhluk adalah cacian dan celaan serta mendoakan keburukan bagi orang yang dilaknat serta mempersulitnya dan menyelisihinya disertai kemunkaran kepadanya dan berlepas diri darinya.

Dan yang dimaksud dengan firman Allah "mereka yang melaknat" adalah segala sesudah yang dapat memberi laknat, dan ini telah datang penjelasannya sesudah ayat itu didalam firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang kafir dan mati sedangkan mereka berada dalam kekafiran merekalah yang akan ditimpa oleh laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya."

Ayat ini telah menjelaskan bahwa menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk termasuk dosa-dosa besar yang karenanya Allah telah mewajibkan bagi pelakunya laknat. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Dien dan dibutuhkan oleh mukallaf maka tidak boleh untuk disembunyikan, dan barang siapa yang menyembunyikannya sesungguhnya kesalahannya sangat besar.

Dan firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaubat dan berbuat kebaikan serta menerangkan (kebenaran).". Menunjukkan bahwa tidak cukup di dalam taubat itu bagi seseorang untuk mengatakan sesungguhnya aku telah bertaubat akan tetapi wajib baginya setelah bertaubat untuk mengubah keadaan sebelum itu, apabila ia seorang yang murtad maka ia mesti kembali kepada Islam serta melaksanakan syariat-syariatnya, dan jika ia termasuk orang yang berbuat maksiat mestinya ia menampakkan amal-amal shaleh serta menjauhi orang-orang yang berbuat kerusakan.


Firman Allah: "dan mereka yang menjelaskan (kebenaran)", yakni mereka menjelaskan apa yang mereka sembunyikan daripada ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan menyembunyikan adalah: tidak mau menampakkan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, serta segala sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk ditampakkan, sebab jika sesuatu yang tidak ditampakkan itu bukan hal yang perlu maka seorang melakukannya tidak dianggap sebagai seorang yang menyembunyikan. dan oleh karena apa yang diturunkan oleh Allah dari pada penjelasan-penjelasan dan petunjuk merupakan hal-hal yang sangat dibutuhkan dalam Dien maka orang-orang yang mengetahuinya dan tidak menampakkan disifati dengan orang-orang yang menyembunyikannya.

"Firman Allah: "Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dengan orang-orang yang diberikan Al-Kitab agar mereka menjelaskan kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."Sehubungan dengan masalah betapa pentingnya untuk menjelaskan ilmu yang andaikata tidak disebutkan padanya ancaman,
maka cukuplah firman Allah Azza Wa Jalla:
"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Dien dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (At-Taubah : 122)


Dan diriwayatkan oleh Abu Hurairah :

Rasulullah Sallallhu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menyembunyikan suatu ilmu yang ia ketahui maka ia datang pada hari kiamat dengan dikekang daripada kekang api neraka."Adapun Abu Hurairah adalah yang mengatakan sebagaimana disebutkan di dalam dua kitab shahih: "Sesungguhnya manusia mengatakan "Abu Hurairah telah banyak meriwayatkan hadits. andaikata bukan karena dua ayat di dalam Al-Qur'an niscaya aku tidak akan menceritakan satu haditspun, kemudian beliau membaca firman Allah : "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk", dan firman Allah : "Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dengan orang-orang yang diberikan Al-Kitab agar mereka menjelaskan kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."

  • Mengambil upah terhadap pengajaran agama

Para ulama telah berhujjah dengan ayat ini bahwasanya tidak boleh bagi seseorang untuk mengambil upah dalam mengajarkan agama, karena ayat ini menunjukkan wajibnya untuk melakukan pengajaran maka mengambil upah dari perbuatan itu termasuk mengambil upah atas sesuatu yang wajib dan yang demikian itu tidak dibolehkan.

Pendapat ini didukung pula oleh firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang diturunkan oleh Allah berupa Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sangat sedikit". Makna yang terkuat (zhahir) dari pada ayat ini menjelaskan tentang larangan mengambil upah dalam mengajarkan ilmu dan sekaligus larangan terhadap menyembunyikan ilmu itu sendiri. sebab firman-Nya :
"Dan mereka menjualnya dengan harga yang sedikit" merupakan larangan dari pada mengambil harga atau upah atas suatu ilmu dari segala segi serta dalam segala keadaan.


  • Kapan ilmu itu wajib disampaikan


Adapun permasalah tentang kapan ilmu itu wajib disampaikan adalah suatu permasalahan yang telah diperdebatkan oleh ulama, dan sebagai kesimpulannya adalah apa yang disebutkan oleh Ibnul Arabi dikitabnya (Ahkam Al-Qur'an) dimana beliau berkata: "Kesimpulan dari pada maksud ayat ini adalah: bahwasanya seorang yang alim jika dia bermaksud untuk menyembunyikan ilmunya maka sesungguhnya dia telah bermaksiat, akan tetapi jika hal itu tidak disengaja olehnya maka tidak mesti baginya untuk menyampaikan apabila ia mengetahui bahwasanya ada bersamanya orang lain yang dapat menyampaikan ilmu itu."

Berkata Utsman ra: "Sesungguhnya aku akan menceritakan kepada kalian suatu hadits, andaikata bukan karena suatu ayat di dalam Al-Qur'an niscaya aku tidak akan menceritakannya kepada kamu, ayat itu adalah: "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati."

Dan biasanya Abu Bakar dan Umar tidak menceritakan segala sesuatu yang mereka dengar dari Nabi Sallallahu 'alaihi Wasallam kecuali hal itu dibutuhkan. Sedangkan Az-Zubair adalah orang yang sangat sedikit meriwayatkan hadits karena beliau khawatir akan terjerumus pada perbuatan dusta. Akan tetapi mereka beranggapan bahwasanya ilmu telah menyebar pada mereka semua maka salah seorang diantara mereka melakukan tabligh (menyampaikan ilmu) apabila yang lain meninggalkannya.

Apabila dikatakan menyampaikan ilmu merupakan hal yang utama atau fardhu, dan jika demikian, mengapa ada diantara para sahabat yang tidak melakukannya seperti Abu Bakar, Umar, Zubair, dan yang lainnya dan jika menyampaikan ilmu itu suatu keutamaan, maka mengapa mereka banyak yang meninggalkannya?Jawabannya: Bahwasanya barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu maka telah wajib baginya untuk menyampaikan ilmu berdasarkan ayat ini, dan berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan 'Amr bin 'Ash bahwasanya Nabi bersabda: "Barangsiapa yang menyembunyikan suatu ilmu yang ia ketahui maka ia datang pada hari kiamat dengan dikekang daripada kekang api neraka.". Adapun orang yang tidak ditanya maka tidak wajib baginya untuk menyampaikan ilmu kecuali tentang Al-Qur'an saja. Dan telah berkata As-Sihnun: "Sesungguhnya hadits Abu Hurairah dan Amr bin Ash ini hanya menjelaskan tentang masalah persaksian saja."

Adapun pendapat yang menurutku adalah apa yang telah kami isyaratkan sebelum ini bahwasanya apabila ada orang yang menyampaikan ilmu tersebut, maka gugurlah kewajiban itu karena perbuatannya, dan jika tidak ada orang lain yang dapat menyampaikan ilmu selain dia maka wajib baginya untuk menyampaikan ilmu itu.

Dan telah diriwayatkan dari Rasulullah
Sallallahu 'alaihi Wasallam suatu riwayat yang menerangkan tentang keutamaan menyampaikan ilmu, yang mana Beliau bersabda:

"Semoga Allah memberi kecerahan kepada seseorang yang mendengar perkataan itu lalu memahaminya dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya."Wallahu'alam Bishawab...Semoga bermanfaat !! Amiin Ya Rabb .


(sumber: buku Al Amru Bil Ma'ruf Wannahyi Anil Munkar - Ibn Taimiyah) 

Pembagian Hati


Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


" HATI itu trbgi mjdi 3 macam "

  • 1  HATI yg kosong dr Iman & seluruh kebaikan;

Artinya adlh Hati yg d pnuhi dgn kgelapan,SETAN tak prlu mbisikan kjahatan" kpd'a,.Krn ia tlh mjdikan'a sbgai Rumah & t4 tggal utk d atur smua'a,.Ia tealh mguasai HATI itu dgn sempurna .....

  • 2  HATI yg d terangi dgn cahaya K'imanan;

Artinya adlh CAHAYA dlm Hati'a brsinar akn ttpi trtu"p oleh kgelapan Syahwat & Badai Hawa Nafsu,.SETAN snantiasa dtg & prgi,kdang" mndpt peluang,kdang" tdk.Shinggah trjd pperangan yg d menangkan scra brgantian,.Dmikian sterus'a.....

  • 3  HATI yg d penuhi K'imanan & d terangi CAHAYA K'imanan;

Artinya adlh Lenyaplah Syahwat yg mnutupi'a & Sirnalah K'gelapan dri'a shinggah Terbitlah Cahaya dlm Dada'a,.Cahaya bgtu Brkilauan jika Bisikan" Setan hndak mdekati'a Niscaya trbakar oleh Cahaya trsebut,.Sbgaimna Langit yg d jga oleh BINTANG",.Jika Setan hndak mdekat & mcari jln pda'a,mka ia akn d lmpari shingga trbakar & tdklah Langit lbh tiggi K'hormatan'a d banding dgn K'hormatan s'org MUKMIN....
Krn Pnjagaan Allah Ta'ala trhdap s'org Mukmin lbih smpurna dripda Pnjagaan Allah trhdap Langit......

LANGIT adlh t4 B'ibadah pra MALAIKAT & B'smayam'a WAHYU,.D dlm'a trdpat Cahaya K'taatan,.Sdgkan HATI s'org MUKMIN adlh t4 B'smayam TAUHID,CINTA,MA'RIFAHT & IMAN.....Wallahu'alam Bishawab ....

Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" (QS. An-Nisa':69)

Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah !!!

Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...


Betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu wahai Ayah Ibu.

Allah berfirman, yang artinya,
“Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.” (Qs. Al Israa’ 23)

Alangkah bahagianya seorang anak yang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mendapatkan dukungan dari orangtuanya. Akan tetapi, bagaimana jika orang tua melarang kita melakukan kebaikan berupa ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya? Keistiqomahan kita, bahkan bagaikan api yang menyulut kemarahan mereka. Di antara mereka bahkan ada yang menyuruh pada perbuatan yang dilarang Allah? Bagaimanakah seharusnya sikap kita? Jika teringat kewajiban kita untuk berbakti pada mereka, terlebih teringat besarnya jasa mereka, berat hati ini untuk mengecewakan mereka.

Sungguh hati ini tak tega bila sampai ada perbuatan kita yang menjadikan mereka bermuram durja. Kaidah Birrul Walidain Saudariku, durhaka atau tidaknya seorang anak tetaplah harus dipandang dari kacamata syariat. Tak semua anak yang melanggar perintah orang tua dikatakan anak durhaka. Karena ketaatan pada orang tua tidak bersifat mutlak. Tidak sebagaimana ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang sifatnya mutlak.

Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai kedurhakaan pada orang tua, padahal sebenarnya bukan.

Antara lain :
1. Anak menolak perintah orangtua yang melanggar syariat Islam Pada asalnya, seorang anak wajib taat pada orangtuanya. Akan tetapi jika yang diperintahkan orang tua melanggar syariat, maka anak tidak boleh mentaatinya. Yaitu jika orang tua memerintahkan anak melakukan kesyirikan, bid’ah dan maksiat. Contoh konkritnya: orang tua memerintahkan anak memakai jimat, orang tua menyuruh ngalap berkah pada kyai A, orang tua menyuruh anak berjabat tangan dengan lelaki bukan mahrom, dll. Maka, saat sang anak menolak hal tersebut tidaklah dikatakan durhaka. Bahkan ini termasuk bakti kepada orang tua karena mencegah mereka dari perbuatan haram. Allah berfirman yang artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Qs. Luqman: 15)

Namun, seorang anak hendaknya tetap menggunakan adab dan perkataan yang baik. Dan terus mempergauli dan mendakwahi mereka dengan baik pula.

2. Anak tidak patuh atas larangan orangtua menjalankan syariat Islam Tidak disebut durhaka anak yang tidak patuh saat orangtuanya melarang sang anak menjalankan syariat Islam, padahal di saat itu orang tua sedang tak membutuhkannya (misal karena orang tua sedang sakit atau saat keadaan darurat). Contoh konkritnya: melarang anaknya shalat jama’ah, memakai jilbab, berjenggot, menuntut ilmu syar’i, dll. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah wajib mentaati makhluk yang memerintah agar maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad).

Dan di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan pula bahwasanya ketaatan hanya dilakukan dalam perkara yang baik. Maka janganlah engkau melakukan perkara yang haram dengan alasan ingin berbakti pada orang tuamu. Tidak wajib bagimu taat pada mereka dalam bermaksiat pada Allah.

3. Orang tua yang marah atas keistiqomahan dan nasihat anaknya Seorang anak wajib menasihati orang tuanya saat mereka melanggar syariat Islam. Apabila orang tua sakit hati dan marah, padahal sang anak telah menggunakan adab yang baik dan perkataan yang lembut, maka hal ini tidak termasuk durhaka pada orang tua. Saat gundah menyapamu, … Bagaimana ini, aku telah membuat orang tuaku marah? Padahal bukankah keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Tirmidzi)? Saudariku, marahnya orang tua atas keistiqomahan dan nasihat anak, tidaklah termasuk dalam hadits di atas. Hadits di atas tidak berlaku secara mutlak, kita tetap harus melihat kaidah birrul walidain.

Ingatlah saat Nabi Ibrahim menasihati ayahnya,

“Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.”
(Qs. Maryam: 44). Orang tua yang menolak kebenaran Islam kemudian mendapat nasihat dari anaknya, kemungkinan besar akan marah. Tapi sang anak tetap tidak dikatakan durhaka. Saudariku, bila orangtuamu marah atas keistiqomahanmu, maka ingatkan dirimu dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Siapa yang membuat Allah murka karena ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah akan murka padanya dan Allah menjadikan orang yang ingin ia peroleh ridhanya dengan membuat Allah murka itu akan murka padanya. Dan siapa yang membuat Allah ridha sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya dan Allah menjadikan orang yang memurkainya dalam meraih ridha Allah itu akan ridha pula padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi si hamba dan menghiasi ucapan dan amalannya di mata orang yang semula murka tersebut.” (HR. Ath Thabrani)

Subhanallah. Perhatikanlah hadits di atas! Ketika engkau menaati orang tuamu dalam bermaksiat pada Allah, agar orang tuamu ridha. Sedangkan sebenarnya Allah Murka padamu. Maka, bisa jadi Allah justru akan membuat orang tuamu tetap murka pula kepadamu. Meski engkau telah menuruti keinginan mereka. Dan sadarkah engkau, saat engkau menuruti mereka dalam perbuatan maksiat pada Allah, maka sejatinya perintah mereka akan terus berlanjut. Tidakkah engkau khawatir Allah akan murka pada orangtuamu disebabkan mereka terus memerintahkanmu bermaksiat kepada-Nya. Saudariku, bukankah hati kedua orang tuamu berada di genggaman Allah. Maka, yang terpenting bagimu adalah berusahalah meraih ridha Allah dengan keshalihan dan keistiqomahanmu.

Semoga dengan demikian Allah Ridha padamu. Semoga Allah menghiasi ucapan dan amalan kita sehingga orang tua kita pun -bi idznillah- akhirnya ridha kepada kita. Akhlaq Mulia, Penarik Hati yang Banyak Dilalaikan Ustadz Abdullah Zaen, Lc dalam bukunya 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah berkata, “Kerenggangan antara orangtua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, sedangkan si anak berpegang teguh dengan kebenaran yang telah ia yakini.

Akhirnya yang terjadi adalah kerenggangan di antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orangtuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua -bi idznillah- yang luluh untuk menerima kebenaran yang dibawa si anak bukan karena pintarnya anak beragumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji!! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!.” Maka, akhlaq yang mulia adalah jalan terdekat menuju luluhnya hati orangtua. Anak adalah mutiara hati orang tua. Saat mutiara itu bersinar, hati orang tua mana yang tidak menjadi terang. Percaya atau tidak. Kedekatanmu kepada mereka, perhatianmu, kelembutanmu, bahkan hanya sekedar wajah cerah dan senyummu di hadapan mereka adalah bagaikan sinar mentari yang menghangatkan hati mereka.

Sayangnya, banyak dari kita yang justru melalaikan hal ini. Kita terlalu sibuk dengan tuntutan kita karena selama ini orangtua-lah yang banyak menuruti keinginan kita. Seakan-akan hanya orangtua-lah yang wajib berlaku baik pada kita, sedang kita tidak wajib berbuat baik pada mereka. Padahal, kitalah sebagai anak yang seharusnya lebih banyak mempergauli mereka dengan baik. Kita pun terlalu sibuk dengan dunia kita. Juga sibuk dengan teman-teman kita. Padahal orang tua hanya butuh sedikit perhatian kita. Kenapakah kita begitu pelit mengirimkan satu sms saja untuk menanyakan kabar mereka tiap hari? Sedangkan berpuluh-puluh SMS kita kirimkan untuk sekadar bercanda ria dengan teman kita. Kemudian, beratkah bagi kita untuk menyenangkan mereka dengan hadiah?

Janganlah engkau remehkan meski sekedar membawa pulang oleh-oleh seplastik singkong goreng kesukaan ayah atau sebungkus siomay favorit ibu. Harganya memang tak seberapa, tapi hadiah-hadiah kecil yang menunjukkan bahwa kita tahu apa kesukaan mereka, apa yang mereka tak suka, dan apa yang mereka butuhkan, jauh lebih berharga karena lebih menunjukkan besarnya perhatian kita. Dakwahku, Bukti Cintaku Kepada Ayah Ibu… Hakikat kecintaan kita terhadap seseorang adalah menginginkan kebaikan bagi dirinya, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, wujud kecintaan kita kepada orangtua kita adalah mengusahakan kebaikan bagi mereka. Tahukah engkau kebaikan apa yang dimaksud? Seorang ayah telah berbuat baik kepada anaknya dengan pendidikan dan nafkah yang diberikan. Sedangkan ibunya telah merawat dan melayani kebutuhan anak-anaknya. Maka sudah semestinya anaknya membalas kebaikan tersebut. Dan sebaik-baik kebaikan adalah mengajak mereka kepada kebahagiaan dan menyelamatkan mereka dari api neraka.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.”
(Qs. At Tahrim 6)

Saudariku, jika engkau benar-benar mencintai orangtuamu, maka jadikanlah dakwahmu sebagai bakti terindahmu kepada mereka. Ingatlah lagi mengenai dakwah Nabi Ibrahim kepada orangtuanya. Bakti pada orang tua sama sekali tidak menghalangi kita untuk berdakwah pada mereka. Justru karena rasa cintalah, yang membuat kita menasihati mereka. Jika bukan kita, maka siapakah lagi yang akan mendakwahi mereka? Apakah harus dengan mengajak mereka mengikuti kajian? Jika bisa, alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya ada banyak cara yang bisa engkau tempuh agar mereka bisa mengetahui ilmu syar’i dan mengamalkannya.

Jadilah engkau seorang yang telaten dan tidak mudah menyerah dalam berdakwah kepada orang tuamu. Ingatlah ketika engkau kecil. Ketika engkau hanya bisa tidur dan menangis. Orangtuamulah yang mengajarimu, mengurusmu, memberimu makan, membersihkanmu dan memenuhi kebutuhanmu. Ketika engkau mulai merangkak, kemudian berdiri, dengan sabar orangtuamu memegang tanganmu dan melatihmu. Dan betapa senangnya hati orangtuamu melihat langkah kaki pertamamu. Bertambah kesenangan mereka ketika engkau berjalan meski dengan tertatih-tatih. Saat engkau telah bisa berlari-lari, pandangan orangtuamu pun tak lepas darimu. Menjagamu dari melangkah ke tempat yang berbahaya bagimu. Ketika engkau mulai merasa letih berdakwah, ingatlah bahwasanya orangtuamu telah membesarkanmu, merawatmu, mendidikmu bertahun-tahun tanpa kenal lelah. Ya. Bertahun-tahun mereka mendidikmu, bersabar atas kenakalanmu… Maka mengapakah engkau begitu mudahnya menyerah dalam berdakwah kepada mereka? Bukankah kewajiban kita hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah Yang Maha Pemberi Hidayah.

Maka teruslah berdakwah hingga datang waktunya Allah Membuka hati kedua orangtua kita. Landasi Semuanya Dengan Ilmu Seorang anak dengan sedikit ilmu, maka bisa jadi ia akan bersikap lemah dan mudah futur (putus asa) saat menghadapi rintangan dari orangtuanya yang sudah banyak makan garam kehidupan. Bahkan, ia tidak bisa berdakwah pada orang tuanya. Sedangkan seorang anak yang ilmunya belum matang, bisa jadi ia bersikap terlalu keras. Sehingga orangtuanya justru makin antipati dengan dakwah anaknya. Maka, bekalilah dirimu dengan ilmu berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salafush shalih.

Karena dengan ilmulah seorang mampu bersikap bijak, yaitu mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dengan ilmulah kita mengetahui hukum dari permasalahan yang kita hadapi dan bagaimana solusinya menurut syariat. Dengan ilmulah kita mengetahui, pada perkara apa saja kita harus menaati orang tua. Pada perkara apa sebaiknya kita bersikap lembut. Dan pada perkara apakah kita harus teguh layaknya batu karang yang tetap berdiri tegak meski berkali-kali dihempas ombak. Dan yang tidak kalah pentingnya kita bisa berdakwah sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

Maka tidak benar jika saat terjadi benturan sang anak justru berputus asa dan tidak lagi menuntut ilmu syar’i. Padahal dia justru sangat butuh pada ilmu tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Saat terjadi konflik dengan orang tua sehingga engkau kesulitan mendatangi majelis ilmu, usahakanlah tetap menuntut ilmu meski hanya sekedar membaca buku, mendengar rekaman kajian atau bertanya kepada ustadz. Dan segeralah kembali ke majelis ta’lim begitu ada kesempatan.

Jangan lupa! Niatkanlah ilmu yang kau cari itu untuk menghilangkan kebodohan pada dirimu dan orang lain, terutama orangtuamu.
Karena merekalah kerabat yang paling berhak atas dakwah kita.

Karena itu, wahai saudariku… Istiqomahlah ! Dan bingkailah keteguhanmu dengan ilmu dan amal shalih Hiasilah dirimu di depan orang tuamu dengan akhlaq yang mulia Tegar dan sabarlah ! Tegarlah dalam menghadapi rintangan yang datang dari orangtuamu. Dan sabarlah dalam berdakwah kepada orang tuamu Tetap istiqomah dan berdakwah. Sambil terus mendoakan ayah dan ibu Hingga saat datangnya pertolongan Allah… Yaitu saat hati mereka disinari petunjuk dari Allah...Wallahi taufiq wal Hidayah

Insya Allah Teriring cinta untuk ibu dan bapak…
Semoga Allah Mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya. Amiin Ya Rabb


By : Mawar Putih ..

Almarhum, benarkah sebutan ini ?


Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ..


Dalam kehidupan sehari-hari, acapkali kita mendengar atau membaca di media massa cetak ataupun elektronik, yaitu penyebutan kalimat almarhum(orang yang mendapat rahmat) kepada orang yang sudah meninggal, sehingga seakan-akan menjadi gelar. Bagaimanakah pandangan ulama mengenai penyebutan kalimat ini? Berikut, kami nukilkan sebuah pertanyaan dan jawabannya.

Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Al Ilmiyyah Wal Ifta’ ditanya :Saya mendengar sebagian kalimat yang sering diucapkan oleh sebagian orang. Saya ingin mengetahui pandangan Islam terhadap kalimat ini? Misalnya, jika ada seseorang tertentu meninggal dunia, sebagian orang mengatakan “almarhum si fulan”. Jika orang yang meninggal itu memiliki kedudukan, mereka mengatakan “al maghfur lahu fulan”.

Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta’ menjawab:Kepastian ampunan atau rahmat Allah kepada seseorang setelah orang itu meninggal dunia merupakan perkara ghaib; hanya diketahui oleh Allah, kemudian maklhluk yang diberitahu oleh Allah ‘Azza wa jalla , seperti para malaikatNya dan para nabiNya.

Jadi pemberitaan orang lain, selain para malaikat atau para nabi tentang mayit bahwa ia sudah mendapatkan rahmat atau maghfirah, merupakan sesuatu yang tidak boleh. Kecuali (tentang) orang yang sudah dijelaskan nash dari nabi Shalallahu ‘alihi wa salam. (kalau berani berbicara) tanpa nash, berarti telah berlaku lancang atas sesuatu yang ghaib, padahal Allah ‘Azza wa jalla berfirman :

Katakanlah :”Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. An Naml :65)

(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhaiNya. (QS. Jin :26-27)

Namun (memang-pent) seorang muslim diharapkan mendapatkan maghfirah (ampunan), rahmat dan masuk syurga, sebagai karunia dan kasih sayang dari Allah. Dan dia dido’akan agar mendapatkan ampunan, sebagai ganti dari pemberitaan bahwa ia telah mendapatkan mpunan dan rahmat. Allah berfirman :Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. (QS An Nisa’ : 48)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit bahwa Ummul Ala’ -dia seorang wanita yang pernah membaiat Nabi Shalallahu ‘alihi wa salam- memberitahuku, bahwa kaum muhajirin diundi (untuk menentukan siapa di kalangan Muhajirin yang ditempatkan di rumah siapa dari kalangan Anshar). Maka Utsman bin Madz’un terpilih buat kami, lalu kami ditempatkan di rumah kami. Lalu dia sakit yang menyebabkan meninggalkan. Ketika sudah meninggal, dimandikan, dan telah dikafani dengan kain-kainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa salam masuk. Lalu aku mengatakan, “Rahmat Allah atasmu, wahai Abu Sa’ib (maksudnya Utsman bin Madz’un)Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.”

Mendengar ucapanku ini Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa salam bersabda , “Apa yang telah membuat Engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, “Demi bapakmu(ini bukan untuk bersumpah, pent), lalu siapa yang dimuliakan Allah? Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa salam menjawab, “Karena dia telah meninggal dunia, maka demi Allah, saya sungguh mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah, saya tidak tahu padahal saya adalah Rasulullah apa yang akan Allah lakukan pada diri saya! “Kemudian ummul ‘Ala mengatakan :”Demi Allah, setelah itu seterusnya (kepada seorang pun) saya  tidak (lagi) memberi persaksian bahwa si fulan mendapatkan kebaikan setelah meninggalnya”.
(HR Bukhari)


Dan mengenai ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa salam ,Dan demi Allah. Saya tidak tahu-padahal saya adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diri saya.

Ucapan ini beliau katakan sebelum Allah menurunkan firmannya :Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberikan ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan akan datang. (QS Al Fath :1,2)

Juga sebelum Allah memberitahukan beliau Shalallahu ‘alihi wa salam termasuk sebagai penghuni syurga.(Komite fatwa Dan Pembahasan Ilmiyah. Ketua Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz; wakil: Abdurrazaq Afifi; Anggota: Abdullah Al Gadyan dan Abdullah Qu’ud). Lihat fatwa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal ifta’, 2/159-160.

Mengenai ucapan almarhum, jika maknanya pemberitaan tentang keadaan si mayit bahwa ia telah mendapatkan rahmat dari Allah, maka ini haram. Karena ucapan ini berarti sama dengan memastikan bahwa si fulan termasuk penduduk surga. Padahal ini termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah dan orang-orang yang diberi tahu oleh Allah ‘Azza wa jalla.

Syaikh bin Baz mengatakan, “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berkeyakinan, sesungguhnya tidak diperbolehkan memberikan persaksian atas diri seseorang -bahwa orang itu di surga atau di neraka- kecuali yang telah dijelaskan dalam nash Al Qur’an, seperti Abu Lahb
(sebagai penghuni neraka), dan orang yang dipersaksikan Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa salam sebagai penghuni surga, seperti sepuluh shahabat(yang diberitakan akan masuk surga) atau yang semisalnya. Demikian juga (tidak diperbolehkan) persaksian atas seorang bahwa ia maghfur lahu (mendapatkan ampunan) atau al marhum(mendapatkan rahmat). Oleh karena itu, sebagai ganti dari ucapan al marhum dan al maghfur, sebaiknya diucapkan : “Ghofarullahu lahu” Semoga Allah mengampuninya, atau “Rahimahullahu” Semoga Allah merahmatinya. Atau ungkapan sejenis yang termasuk do’a bagi si mayit. Lihat Majmu’ Fatawa Wa Maqalatu Mutanawwi’ah, 4/335.

Namun jika makna al marhum itu sebagai ungkapan optimisme atau harapan semoga si mayit mendapatkan rahmat, maka tidaklah mengapa mengucapkan kata-kata ini. (lihat Majmu’ Fatawa , Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 3/85).

Untuk menghindari kesalahan dalam memahami, semestinya jika kalimat al marhum diganti dengan rahimahullah atau ghafarallahu lahu, atau Allahu yarhamuhu atau sejenisnya yang merupakan do’a.

Demikian semoga bermanfaat bagi kita . Wallahu 'alam Bishawab

Bahaya Fitnah !!!

Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

HATI adalah organ paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan Allah sebagai titik untuk menilai keikhlasan.
Di hati lahirnya niat yang menjadi penentu sesuatu amalan diterima sebagai pahala atau sebaliknya.
Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik supaya tidak rosak, sakit, buta, keras dan tidak mati bagi mengelak penyakit masyarakat yang berpunca daripada hati.

Rasulullah Sallallhu 'alaihi Wasallam diutus Allah sebagai penebar Rahmat bagi semesta Alam :
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta Alam.(QS 21: 107).

Maka tidaklah mengherankan kalau sejarah mencatat kemuliaan akhlaknya. Seluruh perjalanan hidupnya dicatat para sahabat,
lalu dibukukan oleh ulama ahli hadist dan dijadikan dasar hukum bagi kehidupan seluruh umat Islam.
Bahkan Allah sendiri memberikan pujian atas keagungan akhlaknya :

Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu Rahasiakan dan yang kamu nyatakan.
Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS 68: 4):

Istri beliau A'isyah ketika ditanya tentang akhlak beliau menjawab:
Kana khuluquhul-qur'an. (Akhlaknya adalah Al Qur'an). Pikiran, ucapan, dan perbuatannya selalu terkendali sesuai dengan nilai-nila moral yang diajarkan Allah di dalam Al Qur'an.

Bahkan, seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, khusus terhadap perkataan beliau menasehatkan:  
Man kana yu'minu billahi walyaumil akhir falyaqul khairan au liyaskut :
(Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam).

Orang yang suka berkata dusta, berjanji mengingkari dan dipercaya berkhianat dikelompokkannya ke dalam golongan orang munafik yang akan masuk neraka pada lapisan yang paling bawah :
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.
(QS 4: 145).


Nilai-nilai moral yang diajarkan Islam untuk semesta alam ini sangat mulia. Namun demikian nila-nilai moral itu sering diabaikan begitu saja. Hanya karena dibakar kedengkian seseorang tega memfitnah tetangganya, sehingga terjadi pertengkaran dan boleh jadi diakhiri dengan perceraian. Kadang hanya karena ambisi untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi orang tega memfitnah atasannya sehingga menghancurkan karirnya. Taktik busuk menebarkan fitnah untuk kepentingan pribadi atau golongan ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Orang Islam harus berlaku waspada. Waspada untuk tidak berbuat fitnah dan waspada dalam menghadapi fitnah fihak lain.

Mereka tidak menyadari akibat buruk yang akan terjadi karena fitnah tersebut. Sering di luar dugaan, bahkan di luar kontrol. Sayang masih saja ada orang yang dengan senang menari-nari di atas kesusahan orang lain karena fitnahnya. Padahal masih banyak bahan berita yang bisa diangkat dan mendatangkan berkah bagi banyak orang. Sebagai bangsa yang berakhlak kita harus mendahulukan berita-berita yang mendatangkan berkah bagi banyak orang daripada yang menyebabkan terjadinya mushibah.

Kalau kita pikirkan lebih dalam dampak buruknya dapat menghancurkan karir dan masa depan seseorang, dapat menghancurkan rumah tangga, organisasi dan perusahaan, bahkan dapat menghancurkan sebuah negara sekalipun. Maka pantas kalau Allah memperingatkan bahwa fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan :

Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu.

Justeru, Allah memberi peringatan mengenai bahaya fitnah. Firman-Nya yang bermaksud: 
Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhannya.(QS.Al-Baqarah, ayat 191)

Hidup di dunia ini hanya sebentar, sedang kehidupan akheratlah yang kekal. Jangan sampai karena kesalahan yang sepele, yang mestinya kita dapat menghindari, akhirnya menyebabkan kita masuk ke dalam siksa neraka selama-lamanya. Untuk itu mari kita sama-sama kendalikan lidah kita supaya tidak menebarkan fitnah dan supaya tidak saling membantu dalam menebarkan fitnah.

Rasulullah Sallallhu 'Alaihi Wasallam memperingatkan:  
Inna aktsara khathaya ibni adama fi lisanihi (Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya)(HR Bukhari-Muslim).

Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya.Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu.

Rasulullah Sallallhu 'alaihi Wasallam bersabda bermaksud:
Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?Rasulullah bersabda lanjut: Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.
(Hadis riwayat Abu Hurairah)

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud:
Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.
(QS. Al-Hujurat, ayat 12)

Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu.

Firman Allah bermaksud:
Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.
(QS.Al-Hujurat, ayat 6)

Dosa menyebar fitnah umpama Api membakar Ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya.Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah akan menjadi muflis di akhirat nanti.

Begitu buruknya dampak fitnah, maka pantas kalau Rasulullah Sallallhu 'alaihi Wasallam menjamin untuk mendapatkan Syurga bagi orang yang dapat mengendalikan mulutnya dan kemaluannya.Termasuk tentunya mengendalikan mulut untuk tidak mengeluarkan fitnah.

Hakikatnya, Dosa membuat fitnah menjauhkan diri dari syurga.
Sabda Rasulullah Sallallhu'alaihi Wasallam bermaksud:  
Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk mengendalikan lidah kita demi keselamatan kita dunia akherat. Amin.

Jika ada yg bnar s'mata2 hanya dari Allah Azza Wa Jalla sdangkan jika ada yg salah krena kesalahan saya yg dhoif ini..Wallahu'alam Bishawab ...

Homoseksual ... Awas !!!

Bismillahir rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Gay, homoseks, lesbian adalah sebuah orientasi seksual yang menyimpang dari yang semestinya pada manusia normal. Pada umumnya, manusia normal selalu tertarik dan memiliki orientasi seksual dengan lawan jenisnya.
Seorang pria tertarik pada wanita sementara seorang wanita tertarik pada seorang pria.

Namun, seringkali ada pria yang menyukai pria lainnya. Ini biasa dikenal sebagai Gay. Sementara bagi wanita yang tertarik dengan sesama wanita disebut sebagai lesbian. Gay dan lesbian ini lebih umum disebut dengan homoseksual, alias memiliki orientasi seksual sesama jenis..

Homo atau lesbian nama kerennya adalah LIWATH itu sudah pernah terjadi di zaman Nabi Luth. Saat itu Allah telah memberi peringatan agar mereka para pendosa itu segera bertaubat..Kita tak ingin Allah Swt. murka. Karena bila sampai Allah murka, maka sungguh tak akan ada yang selamat dari adzab-Nya meskipun ia adalah orang beriman. Karena yang namanya adzab itu nggak mungkin pilih-pilih datangnya. Ia akan menghantam siapa saja yang ada di antara kaum pendurhaka itu..

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka : "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?"(QS.Al A'raaf:80)

  1.  Adzab Yang di berikan kepada Kaum Nabi Luth As ..

Allah Azza Wa Jalla Berfirman. (yang artinya):

lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya.(QS.An Najm:54)


“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah
(Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,”
(QS Huud : 82)

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu) ; maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.(QS.Al A'raaf:84)

Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu
(yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing,
(QS.Al Qamar:34)

Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. (QS.An Naml : 58)

Jelas saja Allah murka dengan manusia jenis ini. Adzab Allah berupa dibaliknya bumi yang atas menjadi di bawah dan yang bawah menjadi di atas, kemudian dijatuhkanNya batu dari tanah yang terbakar menghunjani kaum pendosa itu. Nauzdhubillah

Juga, Allah Azza Wa Jalla. berfirman (yang artinya): dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik (QS al-Anbiyaa’ [21]: 74)

  • Hukum Bagi Pelaku HOMOSEKSUAL

Imam Syafi’i menetapkan pelaku dan orang-orang yang ‘dikumpuli’ (oleh homoseksual dan lesbian)
wajib dihukum mati, sebagaimana keterangan dalam hadits,

Rasulullah Sallallhu 'alaihi Wasallam. bersabda,  
“Barangsiapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth
(praktik homoseksual dan lesbian), maka ia harus menghukum mati; baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya.”(HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Baihaqi)

Hukuman secara syar’i buat orang yang melakukan hubungan seks sejenis lebih berat dari hukuman pelaku zina biasa. Sebab yang dilakukan memang biangnya kenistaan, puncak kemaksiatan dan penyimpangan yang dikutuk semua orang.
Wahai Saudara-saudari-Ku perlu di ketahui dalam hal ini adalah Ini merupakan suatu perbuatan DOSA BESAR yang di LAKNATI ALLOH.

Al-Quran sudah jelas membahas masalah ini. Tinggal kalian yang harus menundukkan hawa nafsu kalian dan kemudian taat kepada Allah Azza Wa Jalla. dan Rasu-lNya dengan cara mengikuti aturan-Nya, yakni Islam. Siap kan ?

Oya, buat kaum homoseksual, tulisan ini bukan memojokkan kalian, tapi kami mengajak dengan cinta agar kalian bisa balik ke ‘habitat’ awal. Jangan mengampuni apa yang kalian lakukan bahwa homoseksual adalah takdir dan kalian mengklaim tak bsia menyembuhkannya. Insya Allah selalu ada jalan. Asal kalian mau berubah meyakini kebenaran Islam dan ajarannya, dan meyakini bahwa hanya Allah Swt. sajalah sebagai Tuhan yang wajib disembah dan ditaati peraturanNya.Wallahu'alam Bishawab

Jika ada yg bnar s'mata2 hanya dari Allah Azza Wa Jalla sdangkan jika ada yg salah krena kesalahan saya yg dhoif ini..Wasallamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh