Rabu, 23 Maret 2011

Saudariku, Inilah Kemuliaanmu ! (Bag 2 Habis)

♥ ^Smile It's a Sunnah .
Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Beberapa contoh hukum-hukum syariat Islam yang menggambarkan pemuliaan dan penghargaan Islam terhadap kaum perempuan.

1. Kewajiban memakai jilbab pakaian yang menutupi semua aurat secara sempurna [Lihat kitab Hiraasatul Fadhiilah (hal. 53)] ) bagi wanita ketika berada di luar rumah.Allah Ta’ala berfirman,

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Ahzaab:59).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan kewajiban memakai jilbab bagi wanita dan hikmah dari hukum syariat ini, yaitu: “supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti”.


Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata:  “Ini menunjukkan bahwa gangguan (bagi wanita dari orang-orang yang berakhlak buruk) akan timbul jika wanita itu tidak mengenakan jilbab (yang sesuai dengan syariat).

Hal ini dikarenakan jika wanita tidak memakai jilbab, boleh jadi orang akan menyangka bahwa dia bukan wanita yang ‘afifah (terjaga kehormatannya), sehingga orang yang ada penyakit (syahwat) dalam hatiya akan mengganggu dan menyakiti wanita tersebut, atau bahkan merendahkan/melecehkannya…

Maka dengan memakai jilbab (yang sesuai dengan syariat) akan mencegah (timbulnya) keinginan-keinginan (buruk) terhadap diri wanita dari orang-orang yang mempunyai niat buruk.”[Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 489)].

2.  Kewajiban memasang hijab/tabir untuk melindungi perempuan dari pandangan laki-laki yang bukan mahram-nya.
Allah Ta’ala berfirman menerangkan hikmah agung disyariatkannya hijab/tabir antara laki-laki dan perempuan,

{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ}

“Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. al-Ahzaab: 53).

Syaikh Muhammad bin Ibarahim Alu syaikh berkata: 
“(Dalam ayat ini) Allah menyifati hijab/tabir sebagai kesucian bagi hatinya orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan, karena mata manusia kalau tidak melihat (sesuatu yang mengundang syahwat, karena terhalangi hijab/tabir) maka hatinya tidak akan berhasrat (buruk).

Oleh karena itu, dalam kondisi ini hati manusia akan lebih suci, sehingga (peluang) tidak timbulnya fitnah (kerusakan) pun lebih besar, karena hijab/tabir benar-benar mencegah (timbulnya) keinginan-keinginan (buruk) dari orang-orang yang ada penyakit (dalam) hatinya.” [Kitab Al-Hijaabu wa Fadha-iluhu (hal. 3)].

3. Kewajiban wanita untuk menetap di dalam rumah dan hanya boleh keluar rumah jika ada kepentingan yang dibenarkan dalam agama. [Lihat kitab Hiraasatul Fadhiilah (hal. 53)].Allah Azza wa Jalla berfirman,

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى، وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا}

“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (istri-istri Nabi) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzaab:33).

Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabb-nya (Allah) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” [HR. Ibnu Khuzaimah (no. 1685), Ibnu Hibban (no. 5599) dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath (no. 2890), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Mundziri dan Syaikh Al-Albani dalam Silsilatul Ahaaditsish Shahiihah (no. 2688)].

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah ketika menerangkan hikmah agung diharamkannya tabarruj dalam Islam, beliau berkata, “Adapun dalam agama Islam maka perbuatan ini (tabarruj) diharamkan, dengan kuat dan kokohnya keimanan yang menancap dalam hati seorang wanita muslimah, dalam rangka (mewujudkan) ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta (dalam rangka) menghiasi diri dengan kesucian dan kemuliaan, menghindarkan diri dari kehinaan,

juga (dalam rangka) menjauhi perbuatan dosa, memperhitungkan pahala dan ganjaran (dari-Nya), serta takut akan siksaan-Nya yang pedih. Maka wajib bagi para wanita muslimah untuk bertakwa kepada Allah dan menjauhi (semua perbuatan) yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, supaya mereka tidak ikut serta dalam menyusupkan kerusakan di dalam (tubuh) kaum muslimin, dengan tersebarnya perbuatan-perbuatan keji, merusak (moral) anggota keluarga dan rumah tangga, serta merajalelanya perbuatan zina.

Juga supaya mereka tidak menjadi sebab yang mengundang pandangan mata yang berkhianat dan hati yang berpenyakit (yang menyimpan keinginan buruk) kepada mereka, sehingga mereka berdosa dan menjadikan orang lain (juga) berdosa.” [ Kitab Hiraasatul Fadhiilah (hal. 105)].

4. Tugas dan tanggung jawab kaum wanita, yaitu mendidik dan mengarahkan anak-anak di dalam rumah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته، … والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسؤولة عنهم”

“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya…seorang wanita (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya bagi anak-anaknya,
dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka.” [HR. Al-Bukhari (no. 2416) dan Muslim (no. 1829)].

Tugas dan tanggung jawab ini menunjukkan agungnya kedudukan dan peran kaum wanita dalam Islam, karena merekalah pendidik pertama dan utama generasi muda Islam, yang dengan memberikan bimbingan yang baik bagi mereka, berarti telah mengusahakan perbaikan besar bagi masyarakat dan umat Islam.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kaum wanita memiliki peran yang agung dan penting dalam upaya memperbaiki (kondisi) masyarakat, hal ini dikarenakan (upaya) memperbaiki (kondisi) masyarakat itu ditempuh dari dua sisi,

    * Yang pertama: perbaikan (kondisi) di luar (rumah), yang dilakukan di pasar, mesjid dan tempat-tempat lainnya di luar (rumah). Yang perbaikan ini didominasi oleh kaum laki-laki, karena merekalah orang-orang yang beraktifitas di luar (rumah).

    * Yang kedua: perbaikan di balik dinding (di dalam rumah), yang ini dilakukan di dalam rumah. Tugas (mulia) ini umumnya disandarkan kepada kaum wanita, karena merekalah pemimpin/pendidik di dalam rumah.

Oleh karena itu, tidak salah kalau sekiranya kita mengatakan: bahwa sesungguhnya kebaikan separuh atau bahkan lebih dari (jumlah) masyarakat disandarkan kepada kaum wanita. Hal ini dikarenakan dua hal,

   1. Jumlah kaum wanita sama dengan jumlah laki-laki, bahkan lebih banyak dari laki-laki. Ini berarti umat manusia yang terbanyak adalah kaum wanita, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…Berdasarkan semua ini, maka kaum wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki (kondisi) masyarakat.

   2. Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan para wanita, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam (upaya) memperbaiki masyarakat.[Kitab Daurul Mar-ati fi Ishlaahil Mujtama (hal. 3-4)].

Bangga sebagai wanita muslimah


Contoh-contoh di atas cuma sebagian kecil dari hukum-hukum syariat yang menggambarkan penghargaan dan pemuliaan Islam terhadap kaum perempuan. Oleh karena itulah, seorang wanita muslimah yang telah mendapatkan anugerah hidayah dari Allah Ta’ala untuk berpegang teguh dengan agama ini, hendaklah dia merasa bangga dalam menjalankan hukum-hukum syariat-Nya.

Karena dengan itulah dia akan meraih kemuliaan yang hakiki di dunia dan akhirat, dan semua itu jauh lebih agung dan utama dari pada semua kesenangan duniawi yang dikumpulkan oleh manusia.Allah Ta’ala berfirman,

{قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ}

“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka (orang-orang yang beriman) bergembira (berbangga), kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kemewahan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia).’” (QS. Yunus:58).

“Karunia Allah” dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama ahli tafsir dengan “keimanan kepada-Nya”, sedangkan “Rahmat Allah” ditafsirkan dengan “Al-Quran”. [ Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Miftahu Daaris Sa’aadah (1/227)].Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

{وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ}

“Dan kemuliaan (yang sebenarnya) itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya dan milik orang-orang yang beriman, akan tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. Al-Munaafiqun:8).

Dalam ucapannya yang terkenal Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah memuliakan kita dengan agama islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain agama islam ini, pasti Allah akan menjadikan kita hina dan rendah.”
[Riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak (1/130), dinyatakan shahih oleh Al Hakim rahimahullah dan disepakati oleh Adz Dzahabi rahimahullah].

Penutup

Dalam al-Qur’an Allah Yang Maha Adil dan Bijaksana telah menjelaskan sebab untuk meraih kemuliaan yang hakiki di dunia dan akhirat bagi laki-laki maupun perempuan, yang sesuai dengan kondisi dan kodrat masing-masing.Renungkanlah ayat yang mulia berikut ini,

{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ}

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Maka Wanita yang saleh adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (memberi taufik kepadanya).” (QS. An-Nisaa’:34).

Semoga Allah Ta’ala menjadikan tulisan ini bermanfaat dan sebagai nasihat bagi para wanita muslimah untuk kembali kepada kemuliaan mereka yang sebenarnya dengan menjalankan petunjuk Allah dalam agama Islam.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan, agar Dia membantu memperbaiki amal ibadah kita.
Wallahu a’lam Bishawab

Semoga bermanfaat untuk kita semua ... Amiin Ya Rabb

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك







Penulis Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthany, M.A.[Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 25 Syawwal 1430 H]

Saudariku, Inilah Kemuliaanmu ! (Bag 1)

♥ ^Smile It's a Sunnah .
Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Allah Ta’ala telah menetapkan syariat Islam yang lengkap dan sempurna, serta terjamin keadilan dan kebenarannya.Allah Ta’ala berfirman,

{وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil.
Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-An’aam:115)

Artinya: Al-Quran adalah firman Allah yang benar dalam berita yang terkandung di dalamnya, serta adil dalam perintah dan larangannya, maka tidak ada yang lebih benar dari pada berita yang terkandung dalam kitab yang mulia ini, dan tidak ada yang lebih adil dari pada perintah dan larangannya. [Lihat kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 174)].

Di antara bentuk keadilan syariat islam ini adalah dengan tidak membedakan antara satu bangsa/ suku dengan bangsa/suku lainnya, demikian pula satu jenis (laki-laki atau perempuan) dengan jenis lainnya, kecuali dengan iman dan takwa kepada Allah Ta’ala...Allah Ta’ala berfirman,

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ}

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat: 13)

Dalam ayat lain Dia Ta’ala berfirman,

{مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).

Juga dalam firman-Nya,

{فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ}

“Maka Allah memperkenankan permohonan mereka (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah dari sebagian yang lain.” (QS. Ali Imraan: 195).

Apresiasi Islam terhadap kaum perempuan

Sungguh agama Islam sangat menghargai dan memuliakan kaum perempuan, dengan menetapkan hukum-hukum syariat yang khusus bagi mereka, serta menjelaskan hak dan kewajiban mereka dalam Islam, yang semua itu bertujuan untuk menjaga dan melindungi kehormatan dan kemuliaan mereka. [Lihat kitab Al-Mar’ah, Baina Takriimil Islam wa Da’aawat Tahriir, (hal. 6)].

Syaikh Shalih al-Fauzan hafidhahullah berkata, “Wanita muslimah memiliki kedudukan (yang agung) dalam Islam, sehingga disandarkan kepadanya banyak tugas (yang mulia dalam Islam). Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam selalu menyampaikan nasihat-nasihat yang khusus bagi kaum wanita [Misalnya dalam HR. Al-Bukhari (no. 3153) dan Muslim (no. 1468)],

bahkan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menyampaikan wasiat khusus tentang wanita dalam khutbah beliau di Arafah (ketika haji wada’). [Dalam HR. Muslim (no. 1218) ].

Ini semua menunjukkan wajibnya memberikan perhatian kepada kaum wanita di setiap waktu. [Kitab At-Tanbiihaat ‘ala Ahkaamin Takhtashshu bil Mu’minaat, (hal. 5)].

Di antara bentuk penghargaan Islam terhadap kaum perempuan adalah dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum syariat, dalam kewajiban bertauhid kepada Allah, menyempurnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan larangan dalam Islam. [ Lihat keterangan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitab Hiraasatul Fadhiilah (hal. 17)].

Adapun perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam beberapa hukum syariat, maka ini justru menunjukkan kesempurnaan Islam, karena agama ini benar-benar mempertimbangkan perbedaan kondisi laki-laki dan perempuan, untuk kemudian menetapkan bagi kedua jenis ini hukum-hukum yang sangat sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka.

Inilah bukti bahwa syariat Islam benar-benar ditetapkan oleh Allah Ta’ala, Zat Yang Mahaadil dan Bijaksana, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya. Allah berfirman,

{أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}

“Bukankah Allah yang menciptakan (alam semesta beserta isinya) maha mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Mulk:14)

Ini semua menunjukkan bahwa agama Islam benar-benar ingin memuliakan kaum perempuan, karena Islam menetapkan hukum-hukum yang benar-benar sesuai dengan kondisi dan kodrat mereka, yang dengan mengamalkan semua itulah mereka akan mendapatkan kemuliaan yang sebenarnya.

Ketika menjelaskan hikmah yang agung ini, Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, “Allah Dia-lah yang menetapkan dan menakdirkan bahwa laki-laki tidak sama dengan perempuan, dalam ciri, bentuk dan kekuatan fisik. Laki-laki memiliki fisik dan watak yang lebih kuat, sedangkan perempuan lebih lemah dalam (kondisi) fisik maupun wataknya…

Dua macam perbedaan inilah yang menjadi sandaran bagi sejumlah besar hukum-hukum syariat.

Allah Yang Maha Mengetahui (segala sesuatu dengan terperinci) dengan hikmah-Nya yang tinggi telah menetapkan adanya perbedaan dan ketidaksamaan antara laki-laki dengan perempuan dalam sebagian hukum-hukum syariat, (yaitu) dalam tugas-tugas yang sesuai dengan kondisi dan bentuk fisik, Serta kemampuan masing-masing dari kedua jenis tersebut (laki-laki dan perempuan) untuk menunaikannya. (Demikian pula sesuai dengan) kekhususan masing-masing dari keduanya pada bidangnya dalam kehidupan manusia, agar sempurna (tatanan) kehidupan ini, dan agar masing-masing dari keduanya menjalankan tugasnya dalam kehidupan ini.

Maka, Allah mengkhusukan kaum laki-laki dengan sebagian hukum syariat yang sesuai dengan kondisi, bentuk, susunan dan ciri-ciri fisik mereka …(dan sesuai dengan) kekuatan, kesabaran dan keteguhan mereka (dalam menjalankan hukum-hukum tersebut), (juga sesuai dengan) semua tugas mereka di luar rumah dan usaha mereka mencari nafkah untuk keluarga.

Sebagaimana Allah mengkhususkan kaum perempuan dengan sebagian hukum syariat yang sesuai dengan kondisi, bentuk, susunan dan ciri-ciri fisik mereka …, (dan sesuai dengan) terbatasnya kemampuan dan kelemahan mereka dalam menanggung (beban), (juga sesuai dengan) semua tugas dan tanggung jawab mereka di dalam rumah, dalam mengatur urusan rumah tangga, dan mendidik anggota keluarga yang merupakan generasi (penerus) bagi umat ini di masa depan.

(Dalam Al-Qur’an) Allah menyebutkan ucapan istri Imran,

{وليسَ الذكَرُ كالأُنْثى}

“Dan laki-laki tidaklah sama dengan perempuan.” (QS. Ali ‘Imraan: 36).

Maha suci Allah yang milik-Nyalah segala penciptaan dan perintah (dalam syariat islam), dan (milik-Nyalah) segala hukum dan pensyariatan,

{أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ، تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ}

“Ketahuilah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raaf: 54).

Inilah iradah (kehendak) Allah yang bersifat kauniyyah qadariyyah (sesuai dengan takdir dan kodrat yang telah Allah tetapkan bagi semua makhluk) dalam penciptaan, pembentukan rupa dan bakat (masing-masing makhluk).

Dan inilah iradah (kehendak)-Nya yang bersifat diniyyah syar’iyyah (sesuai dengan ketentuan agama dan syariat yang dicintai dan diridhai-Nya). Maka, terkumpullah dua iradah (kehendak) Allah ini (dalam hal ini) untuk (tujuan) kemaslahatan serta kebaikan hamba-hamba-Nya,  kemakmuran alam semesta, dan keteraturan (tatanan) hidup pribadi, rumah tangga, kelompok, serta seluruh masyarakat [Kitab Hiraasatul Fadhiilah (hal. 18-20)].Wallahu'alam Bishawab

-Bersambung insya Allah-

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.

Rabu, 09 Maret 2011

BESRIAPLAH..!!! Anda Akan Mati…!!!


♥ ^Smile It's a Sunnah .
Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


Semua orang meyakini, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tidak ada seorang pun bisa mengingkari ataupun menghindarinya, meski menggunakan teknologi secanggih apapun.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya :

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS An Nisaa’ : 78)

Permasalahan selanjutnya, bagaimana menyikapi kematian? Menyikapi pernyataan ini, manusia berbeda-beda, tergantung kadar keimanan dan ilmunya tentang kematian itu serta hal-hal yang berhubungan dengannya.

Kemtian manusian diawali dengan proses yang disebut saaratul maut. Tahapan tercabutnya nyawa manusia dari jasad. Detik-detik ini sangat menegangkan lagi menyakitkan. Penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk . Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda.

Dalam hadist diceritakan, bahwa ruh orang-orang yang beriman akan mendapatkan kemudahan keluar dari jasadnya, bagikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit. Namun, bagaimanapun mudahnya ruh keluar, tetap saja jasad akan mengalami rasa sakit yang luar biasa. Siapakah yang lebih baik amalnya dibanding Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam..?? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam adalah hamba Allah Subhanahu wata’ala yang paling mulia. Meski demikian, Beliau tetap merasakan penderitaan ketika ruh keluar dari jasad Beliau yang mulia.

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, berkata :

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata : “Alangkah berat penderitaanmu, wahai ayahku”, Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…”"

Inilah keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam, lalu bagaiman dengan orang-orang mukmin lainnya.??

Adapun orang kafir, maka ruhnya akan keluar dengan susah payah. Dia akan sangat tersiksa dengannya. jeritan histeris, penyesalan, akan mengiringi akhir ajalnya yang tragis, kematian dalam lembah kekufuran.!! Seperti dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam dalam hadistnya, Malaikat Maut akan mengatakan :

“Wahai jiwa yang keji.!! Keluarlah engkau menuju kemarahan Allah Subhanahu wata’ala dan kemurkaan-Nya.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam kemudia menggambarkan proses keluarnya ruh orang kafir. dan kemudian beliau bersabda :

“Ruh bercerai-berai dalam jasadnya, maka ia (Malaikat Maut) mencabut (ruhnya) layaknya mencabut Saffud (penggerek) yang banyak mata besinya dari bulu wol yang basah.”

Persiapan ruh dengan tubuhnya bukan akhir babak kehidupan manusia. Alam barzakh, fase kehidupan di alam kubur, menjadi tempat peristirahatan sementara, dan akan disusul oleh kehidupan lainya yang kekal abadi di akhirat kelak.

Kondisi seseorang di alam penantian ini, juga sangat tergantung dengan amalannya ketiak hidup di dunia. Jika amalannya baik maka ia akan menuai hasil amal kebaikan di alam kubur yang sempit itu, yaitu akan diperluas oleh Allah Subhanahu wata’ala, sarat dengan cahaya. Sebaliknya, jika amalan jelek yang memenuhi catatan amalnya, maka kuburnya akan menyempit dan menghimpitnya, dan siksa yang pedih akan dia rasakan.

Akankah kita dapat meloloskan diri dari siksa kubur.???
Bagaiman persiapan kita menyambut kedatangan Malaikat Maut.??
Apakan perhatian kita sudah sangat tinggi untuk membekali diri.??
Atau ternyata tipu daya syahwat telah menutup mata kita rapat-rapat dan melupakan untuk waspada sejak dini, dalam menghadapi kehadiran ajal yang tidak akan dielakkan.??

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan, agar Dia membantu memperbaiki amal ibadah kita.
Wallahu a’lam Bishawab

Semoga bermanfaat untuk kita semua ... Amiin Ya Rabb

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك

Minggu, 06 Maret 2011

Keutamaan Istighfar


♥ ^Smile It's a Sunnah .
Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


Dari Al Aghor Al Muzani Radhiyallahu ‘anhu, bahwa
Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari”. (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar
Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya aku mohon ampun dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari”. (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta’ala. Dan Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Kami menghitung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam membaca :

“Robbighfirlii watub ‘alaiyya innaka antat tawwaaburrohiim”
(Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) ..sebanyak seratus kali dalam satu majlis”. (HR. Abu Dawud & At Tirmidzi)

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka”. (HR. Abu Dawud)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang berdoa:
“Astaghfirullaahalladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaihi”
(Saya mohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia yang Maha Hidup, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan saya bertaubat kepada-Nya), maka diampunilah dosa-dosanya walaupun lari dari perang”. (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi & Al Hakim, Berkata Al Imam An Nawawi: hadits ini shahih berdasarkan syarat Al Bukhari & Muslim)

Penjelasan Syaikh Muhammad Bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkenaan dengan riwayat-riwayat diatas:

Berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam,
sebagaimana yang diriwayatkan Al Aghor Al Muzani Radhiyallahu ‘anhu:

(“Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati”) yakni sesuatu yang membuat kalut pikiran dan perasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam (“dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari”) kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam mengucapkan istighfar (astaghfirullah) dalam sehari sebanyak seratus kali.

Perhatikan perangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam diatas, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosa beliau Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang telah lalu dan yang akan datang, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam tetap beristighfar memohon ampun kepada Allah.

Maka bagaimana dengan kita? dimana kita memiliki hati yang keras, bahkan mati dan tidak terlintas rasa kurang baik dalam hati serta pikiran ketika melakukan dosa-dosa dan pelanggaran. Dan sungguh engkau akan dapati manusia sangat sedikit untuk menaruh perhatian dalam masalah ini. Oleh karena itu sudah semestinya bagi manusia meneladani perangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang mulia, yakni dengan banyak beristighfar sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Kami menghitung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam membaca :

“Robbighfirlii watub ‘alaiyya innaka antat tawwaaburrohiim”
(Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) ..sebanyak seratus kali dalam satu majlis”. (HR. Abu Dawud & At Tirmidzi)

Demikian yang diamalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, dan itu merupakan suatu kenikmatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas hamba-Nya ketika si hamba terpedaya untuk berbuat dosa dan kemudian beristighfar memohon ampun kepada Allah.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta’ala. Dan Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)

Riwayat diatas memberikan motivasi bagi manusia, agar mau bersungguh-sungguh dalam beristighfar dan memperbanyaknya. Karena dengan sebab itu manusia dapat mencapai derajat orang-orang yang suka beristighfar kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Sebagaimana yang dinyatakan Abu Dawud dalam Sunan-nya:

“Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka”.

(Barangsiapa membiasakan beristighfar) yakni dalam keadaan terus-menerus beristighfar dan memperbanyaknya, maka akan menjadi sebab untuk melapangkan kesempitan dalam hidupnya dan memudahkan segala kesulitannya serta memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka.

Hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan Istighfar dan pujian serta motivasi bagi pelakunya sangatlah banyak. Maka wajib atasmu wahai saudaraku untuk memperbanyak istighfar. Yang paling banyak diucapkan:

“Allahummaghghfirli (Ya Allah ampunilah aku), Allahummarhamni (Ya Allah rahmatilah aku),
Astaghfirullaaha wa atuubu ‘ilaih (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya)
dan lafadz-lafadz yang semisalnya.

Semoga pada hari kiamat kelak engkau berjumpa dengan Allah dalam keadaan dijawab permohonanmu, dan Allah mengampunimu. Wallahul muwaffiq.

Semoga bermanfaat untuk kita semua ... Amiin Ya Rabb

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك

_________________________________________________________________________________

Syaikh Muhammad Bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullaah (Syarh Riyadhus Shalihin, Hal. 559 – 560)
Penterjemah : Fikri Abul Hassan

Indikasi Munafik



♥ ^Smile It's a Sunnah .
Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam bersabda:

“Tanda-tanda keimanan seseorang ialah mencintai Al-Anshar (para shahabat Nabi yang tinggal di Madinah ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam hijrah), dan tanda-tanda kemunafikan seseorang ialah mencela Al-Anshar”. (HR. Bukhari no. 3784 dan Muslim no. 74)

Dan sabdanya Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam:

“Tidaklah mencintai para shahabatku dari kalangan Anshar melainkan dia seorang mukmin, dan tidaklah membencinya melainkan seorang munafik”. (HR. Bukhari no. 3783 dan Muslim no. 75)

Berkata Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah berkenaan dengan riwayat-riwayat diatas:

Termasuk prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ialah menjaga hati-hati mereka dan lisan-lisan mereka dari para shahabat Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam. Yakni menjaga hati mereka dari perasaan benci, dengki dan dendam serta berbagai bentuk ketidaksenangan. Juga menjaga lisan-lisan mereka dari segenap perkataan yang tidak pantas ditujukan kepada para shahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum.

Maka hati Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selamat dari itu semua, dan mengisi hati mereka dengan penuh kecintaan, kemuliaan dan pengagungan terhadapa para shahabat Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam dengan sepantasnya. Maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mencintai para shahabat Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam dan mengutamakan mereka atas segenap manusia.

Karena mencintai mereka sebagai bentuk ekspresi kecintaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam, dan mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam sebagai wujud kecintaan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Lisan-lisan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu dibasahi dengan sanjungan dan pujian, keridhaan, kasih sayang, serta permohonan ampun (istighfar) atas para shahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum.

Dan termasuk dari keutamaan para shahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum ialah bahwa generasi mereka merupakan generasi terbaik dari generasi kehidupan manusia yang ada dimuka bumi, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam:

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku (yakni para shahabat Nabi), kemudian generasi setelahnya (Tabi’in yakni murid-murid shahabat Nabi), kemudian generasi setelahnya (Tabi’it Tabi’in yakni murid-murid Tabi’in)”. (HR. Bukhari)

Para shahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum menjadi perantara (penyambung lidah) antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam dengan ummatnya dalam menyampaikan risalah dakwah. Dimana mereka Radhiyallahu ‘anhum mendiktekan keterangan kepada ummat tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan Asy-Syari’ah (ketentuan agama). Dan mereka Radhiyallahu ‘anhum turut berperan dalam peristiwa-peristiwa bersejarah kegemilangan Islam.

Para shahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum juga berperan dalam menyebarkan syi’ar-syi’ar Islam dan keutamaan-keutamaan ajarannya ditengah ummat; berupa kejujuran, ketulusan, akhlaq serta adab prilaku mulia, yang tidak didapati pada selain mereka.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam memberikan pujian yang khusus terhadap mereka para shahabatnya Radhiyallahu ‘anhum, sebagaimana sabdanya:

“Janganlah kalian mencela para shahabatku, demi jiwaku yang berada di tangan-Nya; seandainya kalian berinfaq dengan satu gunung uhud emas; sungguh kalian tidak akan dapat menandingi seorang pun dari mereka, pun tidak setengahnya”.

Yang diajak bicara Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam dalam riwayat diatas ialah Khalid Bin Walid, ketika terjadi sesuatu antara dia dengan Abdurrahman Bin ‘Auf Radhiyallahu ‘anhu yakni disaat terjadinya pertikaian pada Bani Khuzaimah; maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam berkata:

“Janganlah kalian mencela shahabatku…”

Tidak diragukan lagi bahwa Abdurrahman Bin ‘Auf dan semisalnya lebih utama daripada Khalid Bin Walid, karena Abdurrahman Bin ‘Auf lebih dulu masuk Islam.

Maka tidak halal bagi seorangpun mencela para shahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum secara keumumannya, dan tidak pula halal mencela seorangpun dari mereka secara khusus. Karena mencela para shahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum secara keumumannya merupakan bentuk kekafiran; dan tidak ada keraguan dalam mengkafirkan orang yang ragu dalam mengkafirkannya.

Adapun jika mencela mereka secara khusus (personal), maka perlu ditelusuri motif pencelaannya. Terkadang ada orang yang mencela shahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhu dari sisi fisiknya atau mungkin juga dari sisi agamanya, alhasil setiap orang dalam perkara ini dihukumi dengan tidak ada unsur kesombongan.
Wallahu a’lam bis shawab..

Semoga bermanfaat untuk kita semua ... Amiin Ya Rabb

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك

__________________________________________
________________________________________
Syarhul Kaba’ir Hal. 200 – 201 (Syaikh Muhammad Bin Shalih Utsaimin Rahimahullah)
Penterjemah : Fikri Abul Hassan

Langkah Setan Menelanjangi Wanita ( Bag: 2 Habis )


♥ ^Smile It's a Sunnah .
Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


Terbuka Sedikit Demi Sedikit

Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh, tujuannya agar para wanita menampak kan bagian aurat tubuhnya.

Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit.

Setan Berbisik kepada para wanita, “Baju panjang benar-benar membuat repot, kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa, lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki.” Ini baru agak longgar. “Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab.”

Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang.

Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis

Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang-orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, “Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang.

Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yang lebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh senti saja.” Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari model baru yang terbuka hingga setengah betis.”

Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia mema-kai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.

Ketiga, Terbuka Seluruh Betis

Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, setan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang sang wanita berpikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun buru-buru bisikan setan dan hawa nafsu menyahut, “Ah jelas enggak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak laki-laki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka yaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya.”

Tetapi… apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki,” gumamnya. “Fitnah? Ah itu kan zaman dulu, di masa itu kaum laki-laki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup.

Tapi sekarang sudah berbeda, kini kaum laki-laki kalau melihat bagian tubuh wanita yang terbuka malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini berarti sudah tidak ada lagi fitnah, karena sama-sama suka? Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang di emperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Kristian Dior, semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman.”

Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu. Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.

III. Serba Mini

Setelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. “Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah.”

Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja, pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin dan lain-lain, tak ketinggalan celana pendek separuh paha pun dia miliki, model dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicoba.

Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.

Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan “bikini”.

Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na’udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, “Menelanjangi Kaum Wanita.” Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan laki-laki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu” Setan tak mau ambil resiko.


Penutup
Demikian halus, cara yang digunakan setan, sehingga manusia terjeru-mus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larut, karena kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya.

Membiarkan mereka membuka aurat berarti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyeng-sarakan, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam bis shawab..

Semoga bermanfaat untuk kita semua ... Amiin Ya Rabb

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك



Sumber ide dan pokok pikiran:
" Lihat GAMBAR " Kitab “At ta’ari asy syaithani”, Adnan ath-Tharsyah "

Langkah Setan Menelanjangi Wanita ( Bag: 1 )


♥ ^Smile It's a Sunnah .
Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman...Amma Ba'du


Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su’).

Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian musli-mah. Berikut ini tahapan-tahapannya.

I. Menghilangkan Definisi Hijab

Dalam tahap ini setan membisik-kan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar’i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.

Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.

Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar’i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di mana saja, maka hijab syar’i tetap dipertahankan.

Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?

Pertama, Membuka Bagian Tangan

Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan mem-bisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). “Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan setan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Maka setan berbisik,” Tuh tidak apa-apa kan?

Kedua, Membuka Leher dan Dada

Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. “Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu.” Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak gerah. Cobalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.

Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf “V” yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.

Ketiga, Berpakian Tapi Telanjang

Setan berbisik lagi, “Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Sang wanita bergumam. “Banyak model dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang,” setan memberi ide baru.

Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparan. “Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin,” begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang).

Keempat, Agak di Buka Sedikit

Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinya segar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, “Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?” Dengan itu kamu akan lebih leluasa, lebih kelihatan lincah dan enerjik.”

Lalu dicobalah ide baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik ke jok mobil. “Yah tersingkap sedikit nggak apa-apa lah, yang penting enjoy,” katanya.

Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeda dengan hijab syar’i yang sebenarnya....

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك


Maka kini mulailah setan pada tahapan berikutnya ~> Bersambung . . .